Minggu, 30 November 2008

Rp 45 Triliun Berdayakan Rakyat Miskin

BERITA DetikFinance (Kamis 20 Nopember 2008) bahwa ICW (Indonesian Corruption Watch) temukan data hasil penjualan BBM 2007 dan 2008 berjumlah Rp45 triliun tidak disetor ke negara. Maka kalau benar demikian, sudah seharusnya jumlah itu lebih dari pada cukup untuk program pemberdayaan rakyat miskin yang diduga berjumlah 45 juta pada tahun 2009 oleh LP3ES (Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial), akibat dampak krisis (Suara Pembaruan, 24 November 2008), agar supaya bernilai tambah bagi sumber daya ekonomi kesejahteraan rakyat (EkoKesRa) sebagaimana amanat konstitusi, Pasal-33 UUD45. 
Untuk itulah, kepada pemerintah, di tengah terpaan badai ketidakpastian ekor resesi ekonomi dunia, dihimbau kiranya dapat segera berikan konfirmasi kebenaran indikasi ICW tersebut guna pemenuhan bagi 7 (Tujuh) Strategi Ketahanan Bangsa Indonesia yakni (1) Keagamaan Tidak Rawan, (2) Ideologi Tidak Retak, (3) Sosial Politik Tidak Resah, (4) Sosial Ekonomi Tidak Ganas, (5) Sosial Budaya Tidak Pudar, (6) HanKamNas Tidak Lengah, (7) Ekologi (Lingkungan) Tidak Gersang. 
Saatnyalah kini unjuk kerja Kepemimpinan Nasional menuju jiwa, semangat dan nilai-nilai kenegarawanan yang seyogjanya lebih mengemuka, misalnya dengan lebih menghayati 18 (delapan belas) prinsip-prinsip Kepemimpinan Nusantara yang telah terbukti memberikan kekuatan penyatuan Nusantara di abad 14 Masehi yakni Wijaya, Mantriwira, Natangguan, Saktya Bakti Nagara, Wagmiwak, Wicaksameng Naya, Sarjawa Upasama, Dirosaha, Tan Satresna, Masihi Samasta Buwana, Sih Samasta Buwana, Negara Gineng Pratijna, Dibyacita, Sumantri, Nayaken Musuh, Ambek Parama Arta, Waspada Purwa Arta, Prasaja. 
Sehingga dengan demikian Keadilan bagi 45 Juta Rakyat Miskin itu kelak dapat lebih menjamin eksistensi Persatuan dan Kesatuan Bangsa. 


Pandji R. Hadinoto 
www.jakarta45.wordpress.com 

Flu Burung dan Kelanggengan ala Orba

MUNGKIN flu burung sekarang hampir menjadi `mantan', tidak didengar lagi kabar hebohnya. Masyarakat sudah tenang dan tidak takut lagi makan ayam. Media-media massa tidak lagi mengabarkan perkembangannya secara bergelora macam semangat mahasiswa menuntut mundurnya Soeharto pada Reformasi 1998. 
Namun apakah flu burung sudah benar-benar menjadi `mantan'? Tidak juga, sebab sampai saat ini penelitian tentang keberadaannya masih dilakukan. Berbagai upaya penanggulangan dan penanganan vaksinasi, produksi vaksin, peningkatan biosecurity, peredaran dan bisnis vaksin dan obat-obatan pendukung, semua masih dilakukan, bahkan sistem penanggulangan Avian Influenza atau AI atau Flu Burung ini menjadi bagian integral dalam sistem kesehatan hewan baik di peternakan, daerah, nasional, bahkan internasional. 
Kepedulian yang terus menerus dilakukan laksana `pernikahan mantan', mantan berita menghebohkan yang kini tak lagi. Mantan peristiwa-peristiwa menakutkan yang tak lagi. Mantan carut marut dan konflik yang tidak lagi. Pernikanan mantan adalah pernikahan dalam tatanan baru. 
Namun, kita tak ingin terjebak pada retorika Orde Baru yang mengaku sebagai tatanan perikehidupan masyarakat berbangsa dan bernegara berlandaskan pelaksanaan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen hanya untuk melegalkan dan melanggengkan kekuasaan setidak selama 32 tahun, yang ternyata sampai kini masih berlanjut karena tidak dibasmi seakar-akarnya seperti yang dilakukan Soeharto dalam membasmi PKI seakar-akarnya tanpa sisa sama sekali bahkan 'akar nafas' sekali pun. 
Dalam konteks flu burung, semua peristiwa gempar di media dan masyarakat bukanlah hal yang ingin kita langgengkan. Namun demikian juga ketika semua kelihatan tenang, bukan berarti dalam sistem pemerintahan, pengusaha dan lain-lain terkait flu burung kita akan
melanggengkan konspirasi-konspirasi di dalamnya. 
Contoh aktual, kita tak ingin kasus korupsi pengadaan Rapid Test Virus AI di departemen
terjadi lagi, apalagi bila dana yang ditilep sehingga menggagalkan penerapan Rapid Test adalah untuk penetingan partai yang wakilnya ada di pemerintahan. 


Yonathan Rahardjo
yonathanrahardjo@gmail.com

Jumat, 28 November 2008

Teliti Sebelum Membeli

SEPERTINYA judul di atas sudah sering kita dengar. Artikel ini terinspirasi dari kasus Mbak Meidy dan JPC. 
Aku pernah punya pengalaman mencari pengadaan untuk di kantorku. Barang-barang yang harus aku cari termasuk alat-alat elektronik dan gadget seperti PABX, handphone, notebook, kamera, camcorder, MP3, MP4, sampai AC.
Kesulitan utama adalah mencari barang yang sesuai. Sesuai kebutuhan, kegunaan, dan ekonomis. Hal lain yang perlu aku perhatikan yaitu karena milik kantor (dipakai banyak orang), harus yang tahan banting dan mudah dicari sparepart-nya jika ada kerusakan.
Hal pertama yang aku lakukan adalah membandingkan spesifikasi yang ada. Kemudian, merek dan baru harga. Ternyata, yang namanya barang elektronik dan gadget banyak sekali rupa layanan purnajualnya. Ada resmi dealer, ada black market (BM) alias ‘selundupan resmi’, dan barang benar-benar selundupan yang tidak ketahuan ujung pangkalnya (as is) alias ‘beli putus’. 
Contoh paling mudah adalah handphone. Jika kita tidak membeli langsung dari agen resmi atau dealer, para penjual tanpa ditutupi lagi akan menanyakan, “Mau garansi resmi atau garansi toko?” Artinya, kalau garansi toko, barang adalah BM dan tidak ada jaminan resmi dealer. Harga pasti lebih murah, kualitas... sebenarnya sama. Yang sulit adalah kalau ada kerusakan pabrik, perbaikan akan mengeluarkan biaya.
Lain halnya dengan notebook yang juga semakin menjamur. Mulai dari toko-toko resmi hingga kombinasi resmi plus pemasok notebook BM sudah terlihat. Aku masih berani beli BM untuk notebook karena ada international warranty. Walaupun demikian, hati-hati dengan merek tertentu yang tidak punya layanan purnajual di Indonesia. Misalnya, Dell yang di Singapura terkenal nomor satu layananan purna jualnya. Sedangkan di Indonesia, baru ada sejak pameran komputer terakhir kemarin. Jadi, kalau punya masalah dengan notebook Dell, kemungkinan besar barang akan diterbangkan ke Singapura. 
Hal lain yang perlu diperhatikan, terkadang pemegang dealer resminya berganti-ganti. Sekarang dipegang PT ‘A', tahu-tahu tak berapa lama kemudian sudah dipegang PT ‘B'. Hal tersebut mungkin saja terjadi. Sulitnya kalau PT ‘B' tidak mau menanggung barang-barang yang dikeluarkan PT ‘A' dengan alasan-alasan tertentu.
Aku sendiri pernah mengalami hal di atas ketika membeli sebuah gadget. Untung (orang Indonesia, untung terus) akhirnya PT ‘A' mau bertanggung jawab. Sebelumnya, tidak terbayang olehku PT ‘A' akan melepaskan ke-dealer-annya karena PT ‘A' ini sudah mempunyai nama.
Dari pengalaman-pengalamanku, kuncinya, keterbukaan penjual terhadap pembeli. Kalau semua diutarakan dengan jelas, sehingga pembeli juga bisa memikirkan risiko yang akan dihadapi dan memilih sesuai kenyamanan, maka hal-hal yang tidak diinginkan bisa dihindari.
Sekarang, kecenderunganku membeli barang hanya ada dua kombinasi, yaitu garansi resmi dealer atau black market dengan internasional warranty. Barang-barang beli putus hampir tidak pernah kupilih, kecuali risikonya kecil sekali.
Jadi, hati-hati sebelum membeli patut selalu diterapkan, tidak peduli kita membeli di mana.
Bagaimana dengan pengalaman teman-teman? Ada yang unik atau perlu kita ketahui? Mohon juga dikoreksi kalau pengertian-pengertianku di atas ada yang salah. Maklum, belum ada standar bakunya.

Aprilia 
aprilia25@gmail.com

Sekolah Alternatif, Kembali ke Alam

KUALITAS pendidikan tidak selalu berjalan linier dengan fasilitas yang memadai. Sekolah alam buktinya. Pendidikan bermutu bisa didapat dari alam. Alam adalah sumber pengetahuan yang luas dan berlimpah. Beberapa penemu terkenal di dunia mampu menghasilkan karya-karya fenomenal lantaran memanfaatkan alam. Lihat saja Isaac Newton yang berhasil menemukan ide tentang teori gravitasi hanya karena duduk di bawah pohon apel yang buahnya terjatuh di dekatnya.
Berkaca pada hal tersebut, kini banyak sekolah mempunyai konsep kembali ke alam dan memanfaatkan alam sebagai bagian dari metode pembelajaran. Begitu memasuki sekolah alam, jangan heran karena Anda tidak akan menemukan bangunan permanen layaknya gedung sekolah pada umumnya. 
Sebagai gantinya, berbagai ruangan yang ada seperti ruang guru dan ruang kepala sekolah hanya menempati rumah kayu. Tidak ada bangku atau meja di ruangan-ruangan tersebut. Ruang kelasnya juga tak kalah natural. Alih-alih belajar di ruang berdinding dan berkaca, para murid malah semakin menyatu dengan alam dalam saung yang berfungsi sebagai kelas. 
Sama dengan ruangan lain, di kelas juga tidak ada bangku dan meja. Semua serba lesehan. Untuk keperluan menulis, setiap anak memiliki meja lipat sendiri. Perpustakaan juga sama. Di sini, berbagai buku disusun dengan rapi di rak atau lemari kaca. Para siswa yang ingin membaca buku di perpustakaan harus melepas alas kaki dan duduk dengan manis di sehelai tikar rotan.
Sekolah alam bukan hanya mencoba mengajak murid lebih dekat dengan alam. Lebih dari itu, sekolah yang turut mensukseskan program wajib belajar sembilan tahun ini berusaha memanfaatkan alam sebagai media murah untuk mentransfer ilmu kepada para murid secara optimal. Alam memberi banyak inspirasi dan mengajak berpikir realistis. Mereka percaya, semakin dekat anak dengan alam, ia akan tumbuh menjadi seorang yang bijaksana. Di sekolah ini, mereka menggunakan alam sebagai fasilitas belajar.
Selama ini, orang sering salah kaprah dalam memaknai kualitas pendidikan. Banyak orang menganggap kualitas pendidikan berjalan linier dengan fasilitas yang memadai. Padahal, pendapat tersebut tidak selamanya benar. 

Rosi Sugiarto
rosi.sugiarto@pajak.go.id

Kamis, 27 November 2008

Tak Kenal Maka Tak Sayang

Dengan semangat kebersamaan dan persahabatan, kami mengajak Anda semua untuk aktif berpartisipasi dengan mengirimkan hasil karya tulisan dan fotografi Anda ke Redaksi. Hasil tulisan Anda semua akan kami sebar luaskan melalui blog ke http://suarakitamerdeka.blogspot.com dan milis suarakitamerdeka@yahoogroups.com.
Pembuatan blog dan milis ini bertujuan semakin meningkatkan keakraban di antara kita. Juga, agar menjadi wadah komunikasi yang efektif dan tentunya membuat kita bisa saling mengenal baik. Bukankah ada pepatah mengatakan, “Tak kenal maka tak sayang?”

Bahasa Campur Aduk yang Terlembaga

BELUM lama ini, saya diundang Buyunk Rizal—rekan saya waktu di majalah Vista—yang kini mengelola rumah makan Manado bernama Matahari Domus Resto di Jalan Veteran I/30, Jakarta Pusat.
Dengan semangat, saya berangkat dari rumah. Penuh harapan menyantap masakan Manado, menu yang langka buat saya. Yang sudah saya kenal baru bubur Manado, ketika saya mengikuti Jenderal Tri Sutrisno—waktu masih menjabat sebagai Panglima ABRI—mengadakan kunjungan di Sulawesi Utara.
Ternyata, Buyunk Rizal tak sekadar menjamu undangannya dengan bubur Manado. Sore itu, ditampilkan sosok budayawan yang cukup terkenal Yapi Tambayong dalam acara peluncuran buku Kamus Bahasa & Budaya Manado. Dia adalah seorang wartawan senior, penyair, dan budayawan yang biasa pula berkarya dengan nama Remy Sylado. 
Buku Kamus Bahasa & Budaya Manado yang disusun Yapi Tambayong setebal 389 halaman dengan ukuran 14x21 cm ini diterbitkan PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta (2008). 
Sebagai sebuah edisi kamus, format dan penampilannya tidak terlalu mencolok. Dengan perwajahan sederhana, berwarna merah marun dan ungu tua, kelihatan sebagai buku bacaan populer biasa. Dibanding penampilan kamus-kamus yang sudah beredar, misalnya Kamus Inggris-Indonesia yang disusun John M Echols dan Hassan Shadily (juga terbitan PT Gramedia Jakarta)—yang tampil lebih istimewa dengan hard cover, Kamus Bahasa & Budaya Manado bisa disebut agak ketinggalan. 
Tetapi, ketika membuka, kita dikejutkan oleh begitu padat dan menariknya isi Kamus Bahasa & Budaya Manado. Banyak hal dan pengetahuan baru yang dapat dipetik, istimewa sekali bagi warga non-Manado. Yapi Tambayong pernah memperoleh Penghargaan MURI untuk karya-karya puisinya, Penghargaan Sastra Khatulistiwa untuk karya novelnya, Penghargaan FFB untuk aktingnya di film, Penghargaan Anugerah Indonesia untuk karya-karya teater musik, Penghargaan Khusus dari Istana Wakil Presiden sebagai satu-satunya kritikus musik, serta Satya Lencana Kebudayaan dari negara karena popularitasnya di bidang kesenian kontemporer. 
Dalam penyusunan Kamus Bahasa & Budaya Manado yang diakuinya disusun dan disiapkan selama tiga bulan, dia sangat teliti dan telaten. Ia juga dengan cerdas memberi nuansa dan penjelasan setiap makna kata maupun kalimat dengan kelengkapan contoh, arti, dan filosofi tiap nama fam yang hidup di Manado.
Terungkap betapa unik dan peliknya bahasa Minahasa atau dikenal juga sebagai bahasa Tontemboan, yakni bahasa terbesar di seluruh jazirah utara Sulawesi. Oleh penyusun, disebut pula sebagai bahasa campur aduk. Dicontohkan, kata mange (pergi) dalam perbedaan-perbedaannya menurut waktu yang sedang berlangsung, yang sudah berlangsung, yang belum berlangsung, atau yang akan berlangsung.
Mange kata dasar ‘pergi’. Ma’ange ‘sedang melakukan tindakan pergi’. Mangem ‘sudah melakukan tindakan pergi’. Mangepe ‘akan melakukan tindakan pergi’. Mangeoka ‘berniat melakukan tindakan pergi’. Manangeo ‘telah melakukan tindakan pergi’.
Dijelaskan pula pada bab lain, seperti peralihan lafal sebagai bahasa yang adaptatif dari derivasi bahasa Melayu yang bertahan dalam bahasa Manado, dicirikan dengan perubahan-perubahan lafal yang cenderung tetap. Artinya, berlaku khas pada sejumlah besar kata. Salah satu ciri adalah kata-kata bahasa Melayu dengan huruf akhir ‘t’, hampir seluruhnya dihilangkan atau tidak diucapkan. Misal, dapat diucapkan dapa, empat diucapkan ampa, gigit diucapkan gigi, ingat diucapkan inga, dan lain-lain. 
Yapi Tambayong menuntun kita mengenal bahasa Manado dengan membuka ‘rahasia’ yang selama ini menyelimuti bahasa di daerah itu. Barangkali salah satu, malah mungkin satu-satunya, bahasa di Indonesia yang sangat longgar membuka diri terhadap melintasnya bahasa-bahasa Eropa, Portugis, Spanyol, Belanda, Prancis, Inggris, Jerman, yang kemudian masuk menjadi bahasa campur aduk yang terlembaga di Manado (bahasa Manado). 


SK Martha
calproprint@yahoo.com 



Rabu, 26 November 2008

Antropologi Kuliner ‘Go Green’

POLA makan manusia, menurut tinjauan antropologi, adalah salah satu kompleks budaya yang penting. Oleh masyarakat, sering dipandang sebagai suatu hal yang memenuhi banyak fungsi dan dipengaruhi faktor-faktor sosial budaya. Di luar fungsi aslinya sebagai sumber-sumber zat gizi, makanan mendapat klasifikasi anggapan dalam masyarakat sebagai sesuatu yang memiliki nilai magis, nilai panas (hot), nilai dingin (cold), sosial, status, gengsi, dan sebagainya. 
Hal ini menjadi penyebab ditemuinya perilaku terhadap makanan tertentu yang sebenarnya bernilai gizi tinggi dan sangat penting bagi keperluan tubuh, namun tidak dikonsumsi sehubungan adanya pantangan. Sebaliknya, makanan yang bernilai gizi rendah malah dianjurkan untuk dikonsumsi sehubungan adanya persepsi tertentu terhadap makanan tersebut. 
Dalam pengertian itulah, telah dilakukan kajian antropologi kuliner go green di Denpasar, Bali, sebagai rujukan bagi kesehatan masyarakat kota sekaligus tujuan wisata yang berselera mancanegara, namun berskala ekonomi kesejahteraan rakyat lokal.
Kehadiran beberapa rumah makan berciri go green di Denpasar ditandai oleh Depot Rahayu (Jl Wahidin 27), Bodhi Chumani Vegetarian (Jl Cok Agung Tresna 108), Depot Kasih Vegetarian (Jl Sidakarya 139), Cai Ken Siang (Jl Teuku Umar Barat 168), dan yang lainnya. Semuanya cerminan ekonomi kesejahteraan rakyat.
Bagaimanapun, strategi go green generation (3G) yang bertumpu pada antropologi kuliner go green, selain kelak mampu menghela ekonomi kesejahteraan rakyat lokal, juga berpotensi menjaga keseimbangan ekologis agar tidak gersang, mengingat beberapa data seperti (1) ternyata dengan makan 1 pon daging sapi, kita sudah konsumsi 2.500-5.000 galon air, sehingga lebih baik kita pakai buat ngisi kolam renang, bukan? [http://oak.cats.ohi-au.edu/-eh300401/info_pub.htm], (2) dengan memakan telur setiap hari, ternyata para wanita telah meningkatkan persentase terkena kanker payudara 300% [http://home.netcom.com/-axlep-lus/stuff/veggie/vtrivia.html], (3) Jumlah CO2 seekor sapi sama dengan jumlah CO2 yang dikeluarkan kendaraan yang bepergian 70 ribu kilometer, (4) sektor peternakan telah menyumbang 9% racun karbon dioksida, 65% nitro oksida, dan 37% gas metana yang dihasilkan karena ulah manusia. 
Pemberdayaan antropologi go green—khususnya di bidang kuliner—antara lain bermanfaat bagi promosi dan nilai tambah tujuan wisata, baik kota maupun resor, dan diyakini dapat menjadi salah satu solusi yang menjanjikan peningkatan lapangan kerja dan pendapatan rumah tangga. 

Arya Ramaniya Numitta SSos
antrogogreen@yahoo.com 

Dari Kita Untuk Kita

Detik-detik terakhir menjelang deadline Section B Merdeka, Mangun Wijaya—mahasiwa UPI Purwakarta—mengirimkan SMS ke redaksi. Intinya, Mangun Wijaya berminat menjadi koresponden harian ini. Beberapa hari sebelumnya, pertanyaan dan harapan senada datang dari Djody Hariandja yang beralamat di Karawang, Jawa Barat. Bahkan, Djody datang bersama tiga temannya ke kantor redaksi di Jl Ampera Raya 6, Kemang. 
Kami mengucapkan terima kasih atas niat baik ini. Perlu kami sampaikan bahwa harian Merdeka menampung hasil reportase warga dari mana pun asalnya dan apa pun pendidikannya. Karena itu, bagi para pembaca yang berminat dalam bidang reportase, penulisan, ataupun fotografi, kami persilakan mengirimkan hasil karya ke redaksi. Sebab, halaman ini dari kita dan untuk kita.

Terima Kasih Pak Taufik

Tak terasa, sudah 23 hari kami menemani Anda semua. Kami ucapkan terima kasih atas segala perhatian yang telah Anda berikan kepada harian ini. Beragam tanggapan dan masukan kami terima. Itu semua menjadi inspirasi serta memberikan semangat tersendiri bagi kami untuk terus maju.
Pada Senin (24/11) lalu, seorang pembaca asal Ciputat, Tangerang, bernama Bapak Taufik menghubungi media ini. Beliau tertarik dengan rubrik “Inspirasi” dan memberikan usulan agar kami mewawancarai DR AS Panji Gumilang, Pimpinan Pondok Pesantren Al Zaitun, Indramayu. Bapak Taufik sampai rela mencarikan nomor telepon pondok pesantren tersebut untuk kami. 

Sekali lagi, terima kasih atas perhatian Bapak Taufik. Semoga, pembaca lain bisa melakukan hal yang sama.

Salam, Merdeka!

Pengikut

Mengenai Saya

Jakarta, DKI, Indonesia
Blog ini untuk mereka yang BERPIKIR BERSIKAP BERSUARA MERDEKA
Powered By Blogger

Tim Merdeka