POLA makan manusia, menurut tinjauan antropologi, adalah salah satu kompleks budaya yang penting. Oleh masyarakat, sering dipandang sebagai suatu hal yang memenuhi banyak fungsi dan dipengaruhi faktor-faktor sosial budaya. Di luar fungsi aslinya sebagai sumber-sumber zat gizi, makanan mendapat klasifikasi anggapan dalam masyarakat sebagai sesuatu yang memiliki nilai magis, nilai panas (hot), nilai dingin (cold), sosial, status, gengsi, dan sebagainya.
Hal ini menjadi penyebab ditemuinya perilaku terhadap makanan tertentu yang sebenarnya bernilai gizi tinggi dan sangat penting bagi keperluan tubuh, namun tidak dikonsumsi sehubungan adanya pantangan. Sebaliknya, makanan yang bernilai gizi rendah malah dianjurkan untuk dikonsumsi sehubungan adanya persepsi tertentu terhadap makanan tersebut.
Dalam pengertian itulah, telah dilakukan kajian antropologi kuliner go green di Denpasar, Bali, sebagai rujukan bagi kesehatan masyarakat kota sekaligus tujuan wisata yang berselera mancanegara, namun berskala ekonomi kesejahteraan rakyat lokal.
Kehadiran beberapa rumah makan berciri go green di Denpasar ditandai oleh Depot Rahayu (Jl Wahidin 27), Bodhi Chumani Vegetarian (Jl Cok Agung Tresna 108), Depot Kasih Vegetarian (Jl Sidakarya 139), Cai Ken Siang (Jl Teuku Umar Barat 168), dan yang lainnya. Semuanya cerminan ekonomi kesejahteraan rakyat.
Bagaimanapun, strategi go green generation (3G) yang bertumpu pada antropologi kuliner go green, selain kelak mampu menghela ekonomi kesejahteraan rakyat lokal, juga berpotensi menjaga keseimbangan ekologis agar tidak gersang, mengingat beberapa data seperti (1) ternyata dengan makan 1 pon daging sapi, kita sudah konsumsi 2.500-5.000 galon air, sehingga lebih baik kita pakai buat ngisi kolam renang, bukan? [http://oak.cats.ohi-au.edu/-eh300401/info_pub.htm], (2) dengan memakan telur setiap hari, ternyata para wanita telah meningkatkan persentase terkena kanker payudara 300% [http://home.netcom.com/-axlep-lus/stuff/veggie/vtrivia.html], (3) Jumlah CO2 seekor sapi sama dengan jumlah CO2 yang dikeluarkan kendaraan yang bepergian 70 ribu kilometer, (4) sektor peternakan telah menyumbang 9% racun karbon dioksida, 65% nitro oksida, dan 37% gas metana yang dihasilkan karena ulah manusia.
Pemberdayaan antropologi go green—khususnya di bidang kuliner—antara lain bermanfaat bagi promosi dan nilai tambah tujuan wisata, baik kota maupun resor, dan diyakini dapat menjadi salah satu solusi yang menjanjikan peningkatan lapangan kerja dan pendapatan rumah tangga.
Arya Ramaniya Numitta SSos
antrogogreen@yahoo.com
Rabu, 26 November 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Pengikut
Mengenai Saya
- Suara Kita Merdeka
- Jakarta, DKI, Indonesia
- Blog ini untuk mereka yang BERPIKIR BERSIKAP BERSUARA MERDEKA

Tidak ada komentar:
Posting Komentar