Kamis, 27 November 2008

Bahasa Campur Aduk yang Terlembaga

BELUM lama ini, saya diundang Buyunk Rizal—rekan saya waktu di majalah Vista—yang kini mengelola rumah makan Manado bernama Matahari Domus Resto di Jalan Veteran I/30, Jakarta Pusat.
Dengan semangat, saya berangkat dari rumah. Penuh harapan menyantap masakan Manado, menu yang langka buat saya. Yang sudah saya kenal baru bubur Manado, ketika saya mengikuti Jenderal Tri Sutrisno—waktu masih menjabat sebagai Panglima ABRI—mengadakan kunjungan di Sulawesi Utara.
Ternyata, Buyunk Rizal tak sekadar menjamu undangannya dengan bubur Manado. Sore itu, ditampilkan sosok budayawan yang cukup terkenal Yapi Tambayong dalam acara peluncuran buku Kamus Bahasa & Budaya Manado. Dia adalah seorang wartawan senior, penyair, dan budayawan yang biasa pula berkarya dengan nama Remy Sylado. 
Buku Kamus Bahasa & Budaya Manado yang disusun Yapi Tambayong setebal 389 halaman dengan ukuran 14x21 cm ini diterbitkan PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta (2008). 
Sebagai sebuah edisi kamus, format dan penampilannya tidak terlalu mencolok. Dengan perwajahan sederhana, berwarna merah marun dan ungu tua, kelihatan sebagai buku bacaan populer biasa. Dibanding penampilan kamus-kamus yang sudah beredar, misalnya Kamus Inggris-Indonesia yang disusun John M Echols dan Hassan Shadily (juga terbitan PT Gramedia Jakarta)—yang tampil lebih istimewa dengan hard cover, Kamus Bahasa & Budaya Manado bisa disebut agak ketinggalan. 
Tetapi, ketika membuka, kita dikejutkan oleh begitu padat dan menariknya isi Kamus Bahasa & Budaya Manado. Banyak hal dan pengetahuan baru yang dapat dipetik, istimewa sekali bagi warga non-Manado. Yapi Tambayong pernah memperoleh Penghargaan MURI untuk karya-karya puisinya, Penghargaan Sastra Khatulistiwa untuk karya novelnya, Penghargaan FFB untuk aktingnya di film, Penghargaan Anugerah Indonesia untuk karya-karya teater musik, Penghargaan Khusus dari Istana Wakil Presiden sebagai satu-satunya kritikus musik, serta Satya Lencana Kebudayaan dari negara karena popularitasnya di bidang kesenian kontemporer. 
Dalam penyusunan Kamus Bahasa & Budaya Manado yang diakuinya disusun dan disiapkan selama tiga bulan, dia sangat teliti dan telaten. Ia juga dengan cerdas memberi nuansa dan penjelasan setiap makna kata maupun kalimat dengan kelengkapan contoh, arti, dan filosofi tiap nama fam yang hidup di Manado.
Terungkap betapa unik dan peliknya bahasa Minahasa atau dikenal juga sebagai bahasa Tontemboan, yakni bahasa terbesar di seluruh jazirah utara Sulawesi. Oleh penyusun, disebut pula sebagai bahasa campur aduk. Dicontohkan, kata mange (pergi) dalam perbedaan-perbedaannya menurut waktu yang sedang berlangsung, yang sudah berlangsung, yang belum berlangsung, atau yang akan berlangsung.
Mange kata dasar ‘pergi’. Ma’ange ‘sedang melakukan tindakan pergi’. Mangem ‘sudah melakukan tindakan pergi’. Mangepe ‘akan melakukan tindakan pergi’. Mangeoka ‘berniat melakukan tindakan pergi’. Manangeo ‘telah melakukan tindakan pergi’.
Dijelaskan pula pada bab lain, seperti peralihan lafal sebagai bahasa yang adaptatif dari derivasi bahasa Melayu yang bertahan dalam bahasa Manado, dicirikan dengan perubahan-perubahan lafal yang cenderung tetap. Artinya, berlaku khas pada sejumlah besar kata. Salah satu ciri adalah kata-kata bahasa Melayu dengan huruf akhir ‘t’, hampir seluruhnya dihilangkan atau tidak diucapkan. Misal, dapat diucapkan dapa, empat diucapkan ampa, gigit diucapkan gigi, ingat diucapkan inga, dan lain-lain. 
Yapi Tambayong menuntun kita mengenal bahasa Manado dengan membuka ‘rahasia’ yang selama ini menyelimuti bahasa di daerah itu. Barangkali salah satu, malah mungkin satu-satunya, bahasa di Indonesia yang sangat longgar membuka diri terhadap melintasnya bahasa-bahasa Eropa, Portugis, Spanyol, Belanda, Prancis, Inggris, Jerman, yang kemudian masuk menjadi bahasa campur aduk yang terlembaga di Manado (bahasa Manado). 


SK Martha
calproprint@yahoo.com 



Tidak ada komentar:

Pengikut

Mengenai Saya

Jakarta, DKI, Indonesia
Blog ini untuk mereka yang BERPIKIR BERSIKAP BERSUARA MERDEKA
Powered By Blogger

Tim Merdeka