Senin, 22 Desember 2008

Dialog Demokrasi dan Kedamaian

SEPANJANG tahun 2008, di samping persiapan Pemilu 2009, kita juga giat ikut membangun kehidupan yang lebih adil dan damai, baik melalui pertemuan ekonomi, politik, budaya maupun lintas agama. Indonesia ambil bagian aktif dalam kegiatan APEC yang beranggotakan 21 negara di Asia-Pasifik itu guna ikut membangun integrasi ekonomi regional, reformasi struktural, dan outlook ekonomi global yang lebih adil. Dan itu dituangkan dalam Deklarasi Lima di Lima, ibukota Peru. 
 Sebelumnya Indonesia mengikuti G-20 yang melahirkan Deklarasi Washington menyangkut reformasi pasar finansial guna mengembalikan pertumbuhan dan stabilitas ekonomi global yang tidak merugikan negara-negara berkembang. Indonesia juga mengikuti Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Europe Meeting ( ASEM) di Beijing China yang diikuti oleh 16 pemimpin negara/pemerintahan dari Asia dan 27 dari Eropa.
ASEM memang merupakan forum yang membuka peluang dialog maupun kerja sama di bidang politik, ekonomi dan budaya. Tetapi dalam kesempatan KTT di Beijing ini, Indonesia hanya mengambil satu paket kegiatan saja yakni dialog antarkeyakinan dan antiterorisme (interfaith and counter-terrorism).
Di samping problem ekonomi sosial dan politik, Indonesia dalam tahun 2008 memang melihat masalah tindak kekerasan dan terorisme terutama yang mengatasnamakan agama merupakan masalah serius yang harus dihadapi. Karena itu masalah dialog antaragama atau antarkeyakinan yang berskala regional maupun global sepanjang tahun 2008 ini juga aktif dilakukan oleh kalangan cendekiawan dan ormas keagamaan yang ada di Indonesia, khususnya NU dan Muhammadiyah sebagai dua ormas terbesar di Indonesia.  
Din Syamsuddin, pimpinan Muhammadiyah, menghadiri forum Islam-Katolik yang pertama di Vatikan yang diikuti 25 orang tokoh dari masing-masing agama untuk membahas peran kedua umat beragama untuk menemukan “landasan bersama” guna ikut menanggulangi masalah-masalah umat manusia di dunia agar tercipta suatu kehidupan yang lebih damai dan demokratis dengan prinsip menghargai perbedaan dan mengembangkan persamaan yang ada.  
Pertemuan Islam-Katolik yang baru pertama kali terjadi dalam sejarah menurut Din Syamsuddin untuk menghadapi “musuh bersama” yang bukan berbentuk sesama manusia yang kebetulan di luar lingkaran agama yang dipeluk melainkan masalah kemanusiaan seperti kebodohan, kemiskinan, keterbelakangan, kerusakan lingkungan, dan ketidakadilan.
Pada tahun 2008 ini pula Indonesia menjadi tuan rumah Konferensi Internasional Cendekiawan Islam (ICIS) III yang diselenggarakan oleh Pengurus Besar NU dan World Peace Forum (WPC) II yang diselenggarakan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Kedua forum dialog berskala internasional ini dihadiri oleh banyak negara yang mengharapkan agama menjadi solusi membangun kedamaian bukan perpecahan.
 Sementara itu Indonesia juga menjadi tuan rumah penyelenggaraan Bali Democracy Forum (BDF) yang berskala internasional dan dikembangkan dengan berdirinya Institute for Peace and Democracy sebagai hasil kerja sama antara Universitas Udayana dan Departemen Luar Negeri RI. Lembaga ini diharapkan akan memberikan kontribusi nyata bagi perdamaian dan demokrasi di Asia maupun di belahan dunia lainnya. Dan Indonesia juga menjadi tuan rumah dalam penyelenggaraan pertemuan Perdamaian Dunia II yang banyak dihadiri oleh tokoh-tokoh internasional dari 56 negara.
 Dengan mempelajari selintas kegiatan Indonesia (baik pemerintahnya, ormas nonpemerintah/NGO maupun perorangan) tersebut memperlihatkan bahwa Indonesia selalu aktif dalam kegiatan untuk menciptakan penegakan demokrasi dan kedamaian dunia.

HD Haryo Sasongko
sadewa48@gmail.com

Tidak ada komentar:

Pengikut

Mengenai Saya

Jakarta, DKI, Indonesia
Blog ini untuk mereka yang BERPIKIR BERSIKAP BERSUARA MERDEKA
Powered By Blogger

Tim Merdeka