Senin, 08 Desember 2008

Upaya Memberantas Korupsi tak Menyeluruh

KORUPSI sudah mengakar dan mendarah daging di hampir semua lapisan masyarakat, mulai pejabat yang berkuasa sampai rakyat kecil sekalipun dalam segala bentuknya di bidang masing-masing. Meski di permukaan sepertinya pemerintahan SBY getol dan berhasil membasmi koruptor, sejatinya upaya memberantas korupsi menjadi tidak dapat terjadi secara menyeluruh, merata, sampai ke akar-akarnya.
Koruptor yang kurang punya daya dukung 'keamanan' dapat dengan mudah ditangani, tergantung kemauan dari yang bersangkutan dan orang yang punya otoritas untuk mengungkapnya. Sebagai ilustrasi gampang contohnya koruptor jam absen kerja di kantor, koruptor uang dinas kantor, dengan mudah atasannya melakukan disiplin kantor. Dalam skala besar, koruptor yang tidak mempunyai kiat korupsi dapat dengan mudah ditangkap dan diadili serta dihukum. 
Jenis kedua, katagori koruptor kelas kakap. Pada katagori ini, sulit membuktikannya, karena daya dukung keamanan mereka begitu kuat. Korupsi kelas kakap bahkan sudah membuat penguasa mempunyai akar-akar kekuasaan yang melanggengkannya, bahkan pada pemilu demi pemilu. Kekuatan politik yang berkuasa di masa lalu tetap mempunyai pengikut fanatik, karena kekuatan hasil korupsi telah dibagi rata, semua mendapat bagian. 
Penguasa-penguasa sekarang pun sebetulnya tidak bebas dari korupsi-korupsi kroni-kroninya; justru merekalah pelindung dari para pelaku korupsi itu, karena utang-utang tertentu: utang budi, utang keamanan, utang harta. Tak heran mantan penguasa dan anaknya yang sudah benar-benar terbukti korupsi masih bisa menikmati hidup kaya raya tak habis-habisnya sampai tujuh keturunan.
Kalau mau menangkap koruptor yang kuat ikatan dengan kroni-kroninya, pakailah cara tradisional dalam memecah belah mereka, adu domba antar koruptor dengan kroninya. Biarkan masing-masing pihak 'bernyanyi', itulah saatnya KPK panen koruptor. Atau jalan pintasnya, hubungilah Amerika dan Sekutunya, dan buktikan pada mereka bahwa koruptor kelas kakap itu adalah musuh mereka kelas wahid. Alhasil nasibnya akan
seperti Saddam Husein yang telah dialgojo mati. Tapi sayang, pemerintah sekarang bahkan sebelumnya yang di balik semuanya masih menggurita korupsi demi korupsi masih terbilang sahabatnya Amerika; sehingga upaya pemeberantasan korupsi selalu diselimuti berbagai politik dan kepentingan lain terkait negeri polisi dunia ini.
Jelas di sini, kita harus bergulat dengan waktu dengan norma baku penegakan hukum yang butuh disiplin dan integritas dari para penegak hukum.

Yonathan Rahardjo
yonathanrahardjo@gmail.com

Tidak ada komentar:

Pengikut

Mengenai Saya

Jakarta, DKI, Indonesia
Blog ini untuk mereka yang BERPIKIR BERSIKAP BERSUARA MERDEKA
Powered By Blogger

Tim Merdeka