MEMBENTUK sikap antikorupsi sejak dini jelas merupakan tindakan yang patut didukung. Internalisasi sikap antikorupsi bisa lewat penegakan hukum maupun pendidikan yang bernilai preventif dan edukatif. Arah dari semua langkah itu adalah membangun kultur perlawanan terhadap budaya korupsi. Baik dengan sifat menciptakan efek jera, menebarkan budaya malu, mencegah agar para calon pelaku takut untuk berbuat serupa, hingga penalaran-penalaran lewat proses edukasi.
Kantin Kejujuran di sekolah-sekolah boleh jadi berkesan simbolik, tetapi kita memercayai muatan sifat edukasinya. Kita menyadari, eksistensinya mungkin terlalu kecil di tengah gelombang budaya korupsi dan erosi kejujuran yang mendera bangsa ini. Namun jalan pikiran itu mesti dibalik, kalau kelak sekolah-sekolah di seluruh Indonesia membudayakan gerakan yang sama, bukankah manfaat besarnya akan sama-sama kita rasakan?
Teknisnya, tiap pembeli boleh mengambil barang apa pun di kantin tersebut, membayarnya, dan mengambil sendiri uang pengembaliannya. Tidak ada penjual atau penjaga yang mengawasi, sehingga kalau seseorang mau bersikap tidak jujur dengan mengambil tanpa membayar atau membayar semaunya saja, tidak akan ada orang yang tahu. Yang dibutuhkan adalah mendengarkan suara hati nurani, dengan merasa tanpa diawasi pun hati dan tindakannya tetap harus mewujud ke sikap jujur. Maka ukuran sukses atau tidaknya tujuan kantin tersebut akan terlihat dari neraca keuangannya, apakah secara bisnis bisa berjalan terus atau bangkrut.
Jika rakyat tidak jujur, negara akan hancur. Analog itu diberikan untuk menggambarkan kantin sebagai sebuah negara. Jika pembelinya tidak membayar sesuai kewajibannya, maka modal yang dimiliki tentu akan tergerogoti. Kekayaan dalam bangunan sebuah negara akan habis jika ketidakjujuran yang merupakan basis sikap korup terjadi merajalela.
Bermacam jalan telah ditempuh untuk membangun kejujuran yang bertaut dengan menebar budaya malu. Di antara beragam kreasi elemen rakyat yang peduli, Kantin Kejujuran merupakan ungkapan perlawanan terhadap korupsi secara edukatif. Para pelaku korupsi, atau mereka yang berada dalam lingkaran kekuasaan mestinya tersentuh ketika anak-anak muda sekarang ini telah mengembangkan penalarannya sendiri untuk membangun budaya jujur, budaya malu, dan budaya antikorupsi. Sesungguhnyalah mereka tengah mengasah bahasa hati. Dan, disadari atau tidak, itulah sumbangsih para remaja untuk menyelamatkan Indonesia.
Rosi Sugiarto
rosi.sugiarto@pajak.go.id
Rabu, 10 Desember 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Pengikut
Arsip Blog
-
▼
2008
(31)
-
▼
Desember
(22)
- Obama dan Kemajuan Demokrasi AS
- Dialog Demokrasi dan Kedamaian
- Selamat dan Keselamatan
- Kejagung Kendaraan Partai Politik Tertentu
- 7 Platform ‘45’ Kaum Nasionalis 45
- Pendidikan Antikorupsi Sejak Dini
- Terima Kasih Ibu Ariana dan Bapak Haryanto
- Sastra Daerah vs Sastra Jakarta
- Media Massa vs Blog
- Kami Membuka Pintu Lebar-lebar
- BRI Kurang Kontrol ATM
- Upaya Memberantas Korupsi tak Menyeluruh
- Lebih Mempererat Tali Persaudaraan
- Klaim Asuransi Selalu Bertele-tele
- Asuransi Asing Lebih Bagus
- Gerakan Hemat Air
- Kurban dan Korban
- Aksi Jemput Bola
- PHK Kian Mengancam
- Kebenaran dan Kebiasaan
- Berdayakan 7 Daya Dukung Negara
- Hari AIDS Sedunia
-
▼
Desember
(22)
Mengenai Saya
- Suara Kita Merdeka
- Jakarta, DKI, Indonesia
- Blog ini untuk mereka yang BERPIKIR BERSIKAP BERSUARA MERDEKA

Tidak ada komentar:
Posting Komentar