Misalnya, Novel Novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari menyuarakan kehidupan Ronggeng Srintil di Jawa Tengah. Novel Para Priyayi karya Umar Kayam menyuarakan kehidupan priyayi di Jawa yang tak lepas kisahnya dengan anak-anaknya yang kemudian tinggal di kota besar. Novel Hubbu tentang pencarian identitas sosial di dunia pesantren di daerah tapal kuda Jawa Timur dan Surabaya. Novel Mutiara Karam karya Tusiran Suseno menceritakan kehidupan pelaut dan bajak laut di kepulauan Riau.
Pengaruh asal-usul pengarang terhadap karya sastra ini, apa pun yang dialami pengarang berdasar daerahnya lebih berasosiasi pada sesuatu yang telah membentuk dan memberi nafas hidup pada dirinya; termasuk nafas daerah dan tradisi, baik ia tetap tinggal di daerahnya maupun sudah pindah ke darah lain Jakarta misalnya.
Banyak pengarang yang malah produktif menulis karya-karya tentang daerah asalnya ketika ia tinggal di tempat yang jauh dari daerah itu. Ada semacam memori, rasa kangen, kristalisasi pengalaman, yang semua dapat dengan deras ditumpahkan menjadi sebuah karya bila ia mengambil jarak dari kisah yang dituliskan.
Tak jarang sastra tentang daerah ditulis bukan di daerah asal pengarangnya. Mungkin sesudah ia menjadi orang Jakarta baru bisa menulis tentang daerahnya setelah dipisahkan waktu dan tempat. Hal ini terkait dengan katarsis pengarang dalam menuangkan ide dan gagasan. Kembali lagi ke personal masing-masing; mencipta dengan deras ketika bersentuhan dengan obyek tulisan ataukah justru bila dalam hening.
Tak heran, novel Upacara yang mengisahkan kehidupan tradisi di Kalimantan ditulis Korie Layun Rampan di Jakarta sebagai orang urban pada masa mudanya. Terkait kota urban, fenomena kepengarangan bahkan lebih luas, ambillah contoh Novel Para Priyayi karya Umar Kayam juga ditulisnya ketika ia berada di luar negeri.
Ada pun kegitan-kegiatan penunjang kemajuan sastra di Jakarta jauh lebih banyak dan menjamur dibanding kegiatan-kegiatan di daerah. Jakarta laksana etalase toko bagi kegiatan di segala bidang kehidupan, berkesenian, termasuk sastra. Tiada hari tanpa kegiatan di Jakarta bahkan sampai pada malam hari, memacu sastra di Jakarta 'kelihatan'
berkembang pesat.
Namun, kegiatan sastra tidaklah identik dengan keramaian. Bisa jadi kegiatan sastra sangat dekat dengan sunyi, kesendirian, yang banyak dimiliki oleh sastrawan di daerah dalam berkaya di ruang sunyi. Tetapi, ruang sunyi sendiri dalam konteks berkarya bagi setiap orang adalah berbeda-beda. Misalnya, Arswendo Atmowiloto justru sangat produktif di keramaian, sementara di sebagian banyak orang mereka lebih produktif dalam kesunyian.
Maka dalam konteks ini, hiruk pikuk bagi pengarang ini adalah sunyi. Arswendo sendiri sekarang tinggal di Jakarta, sehingga ia lebih dikenal sebagai sastrawan Jakarta. Dengan konteks kemajuan berkarya sastra antara daerah dan Jakarta, maka jelas soal kreativitas
sejatinyalah tidak memandang lokasi, daerah atau Jakarta. Namun, tergantung pribadi sastrawannya masing-masing.
Yonathan Rahardjo
yonathanrahardjo@gmail.com
*) Penulis novel Lanang dan Pemenang Lomba Novel

Tidak ada komentar:
Posting Komentar