Senin, 01 Desember 2008

Kebenaran dan Kebiasaan

KEBENARAN dan kebiasaan adalah dua kata yang berbeda arti; yang tidak bersangkut paut satu dengan lainnya dan bahkan dalam kehidupan sehari-hari pun jarang sekali saling disangkut-pautkan. Kata 'kebenaran' yang berasal dari kata dasar 'benar'. Saya memahami kata 'benar' sebagai: setuju(concurring) , sejati/tulus ( genuine), setia (loyal/ faithful) , tidak salah(dalam matematika), sah (legitimate). Mungkin bisa ditambahkan juga yang lainnya.
Kata kedua adalah 'kebiasaan'. Kebiasaan adalah (ini juga menurut pemahaman saya) keadaan atau sikap yang dilakukan berulang-ulang dengan pola yang sama, tanpa sadar dan mungkin sudah berlangsung dalam waktu yang cukup lama. Misalkan: kita baru dapat tidur setelah lewat tengah malam; atau sehabis makan siang bila tidak merokok maka mulut akan terasa masam; atau menggaruk kepala tanpa sadar saat kita menyadari kesalahan kita; atau kita tanpa sadar mengatakan "aduh, lupa !", justru saat kita ingat (bahwa ada sesuatu yang terlupa), dan seterusnya.
'Kebiasaan' terjadi didalam hidup kita dan menjadi bagian dari hidup kita. Baik itu kebiasaan yang 'positif', misalkan: selalu hidup bersyukur/berterima kasih, hidup sehat, selalu bersikap hormat/menghargai terhadap sesama manusia, bekerja dengan sepenuh hati dan sebagainya. 
Maupun kebiasaan yang 'negatif' seperti: kebiasaan membuang sampah sembarangan, kebiasaan menyerobot antrean/lampu lalin, kebiasaan menerobos jalur khusus, kebiasaan berlaku sembrono/membahayakan dan masih banyak contoh lainnya. Kebiasaan- kebiasaan 'negatif' sering merupakan kebiasaan yang jelas-jelas tidak dapat benarkan dan diterima oleh banyak orang. 
Tapi ada juga yang lebih memprihatinkan, adalah adanya kebiasaan (bisa yang 'negatif' atau tidak) yang kadang sengaja dipakai untuk membenarkan suatu tindakan yang tidak 'benar'. Beberapa contoh dari kebiasaan tersebut: supaya urusan berjalan lancar kita harus 
memberikan uang pelicin (karena biasanya begitu); supaya lebih cepat kita harus menyerobot jalur khusus (karena biasanya begitu); supaya lebih laku, kita lebih suka membuka lapak/berjualan di pedestrian (karena biasanya begitu), dan sebagainya. Bahkan ketika waktu masuk sekolah direncanakan berubah mulai dari jam 6.30, banyak yang menentangnya karena 'biasa'-nya masuk jam 7.00 saja banyak yang terlambat. 
Terlambat itu 'biasa', semrawut itu 'biasa', menyerobot itu 'biasa', korupsi itu 'biasa' dan seterusnya.
Banyaknya ‘kebiasaan’ dan seringnya 'kebiasaan' sering menutupi kebenaran itu sendiri. Kita sering sulit membedakan lagi sesuatu yang 'tidak benar' dengan sesuatu yang 'benar'. Semuanya terlihat 'biasa'. Dan yang lebih parah lagi 'kebiasaan' sering terlihat sebagai kebenaran dan yang tidak 'biasa' malah dianggap sebagai yang tidak normal/tidak benar.
Saat ini, saya berpikir, bahwa kini saatnya kita mulai berhenti membenarkan suatu kebiasaan (yang mungkin tidak benar) dan hanya mulai mem'biasa'kan yang benar.


Dave Chyn
dave_chyn@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Pengikut

Mengenai Saya

Jakarta, DKI, Indonesia
Blog ini untuk mereka yang BERPIKIR BERSIKAP BERSUARA MERDEKA
Powered By Blogger

Tim Merdeka