ANGGARAN periklanan yang disedot dari perusahaan-perusahaan besar menurun pesat dikarenakan produk-produk periklanan langsung yang ditawarkan oleh mesin-mesin pencari dan alat-alat lainnya. Publikasi-publikasi media mem-PHK wartawan-wartawan mereka, mengonsolidasi reporter-reporter dadakan, mengurangi terbitan-terbitan cetak mereka, dan banyak penerbit benar-benar tutup sama sekali.
Biaya operasional blog lebih rendah daripada media tradisional dan sering dianggap memiliki liputan dan analisis berita yang lebih baik. Blog-blog kian banyak bermunculan untuk menggantikan media tradisional dengan model bisnis yang berbiaya rendah secara berkelanjutan.
Kebangkitan media sosial merupakan tren terdepan di dunia PR dan komunikasi pemasaran saat ini. Di antara para komentator terkemuka mengenai konvergensi media tradisional dan sosial dalam PR adalah Brian Solis, yang memperkenalkan istilah “PR 2.0” pada tahun 1993.. Simpelnya, PR 2.0 adalah bagaimana PR berintegrasi dengan dunia bisnis dewasa ini yang sarat teknologi.
Rilis-rilis media sosial, optimasi mesin pencari, content publishing, dan diperkenalkannya Podcast dan video merupakan tren-tren yang terus berkembang lainnya.
Di Perspektif Online, 27 Juni 2007, Wimar Witoelar mengatakan, bahwa Public Relations (dan berbagai pendekatan komunikasi pemasaran dan korporat lainnya) di masa depan akan tergantung kepada keterampilan memanfaatkan Web 2.0. Model komunikasi horizontal seperti terlihat pada Facebook, Friendster, Flickr, blog dan pemanfaatannya dalam citizen journalism akan menjadi media paling efektif dalam menyampaikan pesan-pesan PR. Kalau corporate website, portal berita dan beragam situs informasi membuktikan kegunaan Web 1.0, maka komunikasi lintas pemakai dalam model Web 2.0 akan memberikan leverage kepada kekuatan PR melalui Web 2.0 yang mengintegrasikan komunikasi warga dengan (dalam bahasa Inggris supaya jelas) networking, collective intelligence, long tails.
Dengan cara ini masa depan PR ada pada partisipasi atau gaul dalam masyarakat, bukan pada pitching. Dikatakan oleh Steve Rubel: “ Masyarakat PR harus keluar dan berdiri di depan tirai, menjadi sedikit lebih ahli secara teknis dan berpartisipasi secara transparan sebagai individu di dalam komunitas-komunitas online. Kita akan harus berkolaborasi secara terbuka dan menambahkan nilai pada jejaring dan membantu perusahaan-perusahaan yang kita wakili agar melakukan hal yang persis sama.”
Menghadapi kenyataan bahwa pitching secara konvensional menjadi semakin susah dengan publik yang lebih cerdas, maka menjual ide atau produk lebih efektif melalui percakapan dan bocoran melalui RSS dibandingkan dengan komunikasi langsung. Website yang partisipatif seperti blog sudah menjadi pilihan bagi media modern bahkan yang berakar di pers cetak, seperti kolumnis kelas dunia dan pengamat pasar dan investasi.
Soedarsono Esthu
esthusoedarsono@yahoo.com
Rabu, 10 Desember 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Pengikut
Arsip Blog
-
▼
2008
(31)
-
▼
Desember
(22)
- Obama dan Kemajuan Demokrasi AS
- Dialog Demokrasi dan Kedamaian
- Selamat dan Keselamatan
- Kejagung Kendaraan Partai Politik Tertentu
- 7 Platform ‘45’ Kaum Nasionalis 45
- Pendidikan Antikorupsi Sejak Dini
- Terima Kasih Ibu Ariana dan Bapak Haryanto
- Sastra Daerah vs Sastra Jakarta
- Media Massa vs Blog
- Kami Membuka Pintu Lebar-lebar
- BRI Kurang Kontrol ATM
- Upaya Memberantas Korupsi tak Menyeluruh
- Lebih Mempererat Tali Persaudaraan
- Klaim Asuransi Selalu Bertele-tele
- Asuransi Asing Lebih Bagus
- Gerakan Hemat Air
- Kurban dan Korban
- Aksi Jemput Bola
- PHK Kian Mengancam
- Kebenaran dan Kebiasaan
- Berdayakan 7 Daya Dukung Negara
- Hari AIDS Sedunia
-
▼
Desember
(22)
Mengenai Saya
- Suara Kita Merdeka
- Jakarta, DKI, Indonesia
- Blog ini untuk mereka yang BERPIKIR BERSIKAP BERSUARA MERDEKA

Tidak ada komentar:
Posting Komentar