Rabu, 03 Desember 2008

PHK Kian Mengancam

PHK kini menjadi momok para pekerja. Apalagi berbagai media terus-menerus memberitakan gelombang PHK di belahan dunia lain. Perusahaan-perusahaan besar yang kelihatannya kokoh saja, kenyataannya juga diterjang gelombang PHK. Misalnya, General Motor dan City Group. Inilah yang dikhawatirkan pekerja. Jangan-jangan perusahaannya yang terhitung gurem akan sangat mudah dilibas PHK.
PHK merupakan sebuah kecemasan. Orang pada level kebanyakan memang harus kerja. Siapa pun sepakat, kerja merupakan tuntutan agar manusia bisa hidup. Tak beda dengan hewan, manusia harus memenuhi kebutuhan dasariah demi kelangsungan hidup. Atas dasar inilah para filsuf menyebut manusia tingkat ini sebagai animal laborans (binatang yang bekerja).
Level animal laborans ini hanya menghasilkan upah yang habis dikonsumsi. Hal terpenting bagi level ini adalah proses kerja berjalan lancar dan mendapatkan jatah untuk dikonsumsi. Mereka sekadar bekerja untuk kebutuhan sehari-hari. Jangan bicara profesionalisme, karena masih memprihatinkan. Jangan pula berharap bakal tumbuh manusia kritis dari animal laborans ini. Sindrom yang menyertai animal laborans ini di antaranya kekerasan.
Oleh karena itu, lantaran berurusan dengan perut maka ketika merebak kabar PHK, mereka pun cemas. Mereka tidak disertai kekritisan, tapi diakrabi kekerasan. Lantas bisa saja muncul amuk jika sumber pekerjaannya diputus.
Patut diantisipasi juga, bayang-bayang PHK itu bisa memicu emosi. Kita bisa melihat kemarahan merupakan struktur dasar hasrat manusia. Oleh karena itulah, perusahaan harus berpikir panjang sebelum menghilangkan pekerjaan seseorang. Alih-alih demi efisiensi, rasanya melakukan PHK juga akan membuat pekerja bereaksi, dan umumnya kekerasan menjadi salah satu bentuk ekspresi mereka. 

Rosi Sugiarto
Pondok TK Al Firdaus BSB Jatisari, Mijen, Semarang
rosi.sugiarto@pajak.go.id

Tidak ada komentar:

Pengikut

Mengenai Saya

Jakarta, DKI, Indonesia
Blog ini untuk mereka yang BERPIKIR BERSIKAP BERSUARA MERDEKA
Powered By Blogger

Tim Merdeka