Selasa, 30 Desember 2008

Obama dan Kemajuan Demokrasi AS

"DUNIA tanpa dominasi Amerika Serikat akan menjadi sebuah dunia yang banyak diisi dengan kekacauan dan kesemrawutan serta akan lebih tidak demokratis dan tidak memiliki pertumbuhan ekonomi yang memuaskan dibandingkan dengan sebuah dunia di mana Amerika Serikat memiliki pengaruh yang kuat dari negara manapun dalam menyelesaikan masalah-masalah global," demikian pernah ditulis oleh ilmuwan politik terkemuka Amerika Serikat (AS), Samuel P. Huntington (1997). 
  Setuju atau tidak setuju dengan pendapat Huntington tersebut, suka atau tidak suka dengan AS, yang jelas di dunia ini ada sebuah negara yang pengaruhnya terhadap bangsa-bangsa lain begitu besar. Itulah AS, yang kerap disebut sebagai kampiun demokrasi. Bukan karena kesempurnaan demokrasi yang dijalankannya selama ini, melainkan karena AS tercatat sebagai negara pertama di dunia yang berbentuk republik dan negara pertama di dunia yang memisahkan relasi antara negara dan agama, pada 1776. 
  Dikarenakan pemisahan hubungan negara-agama itu, apakah seiring waktu AS berkembang menjadi bangsa yang tidak religius? Tidak. Faktanya, sejak dulu hingga kini AS tetaplah bangsa yang meninggikan Tuhan dan berpedoman pada nilai-nilai agama di dalam kehidupannya. Buktinya, antara lain, di dalam mata uang mereka tertulis kata-kata "In God We Trust", dan tetap begitu sampai sekarang sekalipun di sisi lain mereka juga cenderung kapitalistik.  
  AS memang bangsa yang paradoks, demikian menurut Michael Kammen, pemenang Pulitzer Prize, karena buku People of Paradox, An Inquiry Concerning The Origins of American Civilization (1972) yang ditulisnya dinilai mampu menyibak asal-muasal terbentuknya AS menja¬di bangsa yang memiliki sejumlah karakter nasional yang saling bertentangan satu sama lain, namun di aras praktis justru saling melengkapi secara mutualis. Dalam hal apa lagi paradoksal itu nampak selain religius-sekuler dan religius-kapitalistik? Jawabannya: dalam hal demokrasi. Di satu sisi AS sangat meninggikan nilai kebebasan, kesetaraan, dan kompetisi, namun di sisi lain AS juga melegitimasi perbudakan atas kaum Kulit Hitam (yang mulanya disebut Negro, namun kelak menjadi Afro-American). Bahkan selama kurun waktu yang cukup panjang, sebelum Perang Saudara (1861-1865) antara penduduk AS bagian Utara dan penduduk AS bagian Selatan berakhir, perbudakan atas Orang Kulit Hitam itu dilegalkan sebagai sebuah institusi. 
  Begitulah, sebelum kebijakan negara terhadap perbudakan itu berubah, umumnya keluarga Orang Kulit Putih di AS adalah pemilik budak. Termasuk Abraham Lincoln, presiden ke-16 AS (1861-1865), yang dikenal sebagai pejuang demokrasi dan anti-perbudakan. Pasca-perang, perlahan-lahan kebijakan itu pun berubah. Orang Kulit Hitam dapat menjadi warga negara AS yang sah. Namun, pelbagai kebijakan dan praktik-praktik yang diskriminatif terhadap Orang Hitam itu masih terus terjadi. 
  Bagaimana menerangkan keadaan yang paradoks ini: di satu sisi demokratis, di sisi lain diskriminatif? Itulah yang disebut herrenvolk democracy atau "demokrasi tuan-hamba" (Washington dalam de Gruchy, 1995). Bangsa atau masyarakat dengan budaya demokrasi seperti ini niscaya selalu berupaya membuat batas-batas sosial politik antara kelompok yang dominan (kelas satu) dan kelompok-kelompok lain (kelas dua dan seterusnya) yang dipandang tidak setara dengan mereka. Negara pun, karena dikuasai oleh kelompok yang dominan itu, selalu terdorong untuk membuat pelbagai kebijakan yang diskriminatif terhadap kelompok-kelompok yang tidak dominan itu. Sedikit atau banyak, itu tergantung perkembangan situasi maupun tren politik yang menguat. Artinya, jika dulu banyak kebijakan yang diskriminatif, makin lama kebijakan yang diskriminatif itu pun makin berkurang. Jika awalnya hak yang diberikan kepada Orang Hitam itu hanyalah menjadi warga negara AS, makin lama makin banyaklah hak-hak sipil dan politik yang diberikan kepada mereka. Namun, dalam satu hal Orang Hitam itu tetap dikebiri haknya: menjadi Orang Nomor Satu di dalam pemerintahan. Artinya, dalam hal menjalankan pemerintahan AS, tetaplah ada satu golongan yang dominan dan tidak boleh tergantikan posisinya, yakni WASP (White Anglo Saxon Protestant).
Namun, Orang Hitam punya mimpi, sebagaimana semua orang AS diajarkan untuk bermimpi sejak kecil. Memang, bagi setiap orang AS, semua keberhasilan dimulai dari mimpi (disebut American dream). Maka, demi mewujudkan mimpi kesetaraan itu, Orang Hitam tak henti-hentinya berjuang. Melalui gerakan hak-hak sipil yang digulirkan, lagu tema perjuangan mereka yang berjudul "We Shall Overcome", sejak 1960-an telah dinyanyikan banyak orang di seluruh dunia yang bersimpati pada perjuangan mereka. 
  Di antara pejuang kesetaraan hak kaum Kulit Hitam itu terdapat Martin Luther King, Jr., Ph.D (1929-1968). Ia adalah salah seorang pemimpin terpenting dalam sejarah AS dan dalam sejarah non-kekerasan di zaman modern ini, yang dianggap sebagai pahlawan, pencipta perdamaian, dan martir oleh banyak orang di seluruh dunia. 
  King Jr. adalah seorang pendeta Baptis di Montgomery, Alabama, yang gigih berjuang melawan diskriminasi rasial. Dalam seluruh aksinya, ia mengikuti prinsip-prinsip Mahatma Gandhi yang selalu berupaya menghindari kekerasan. Untuk beberapa tahun, ia membuat kesuksesan besar, tetapi secara berangsur-angsur generasi muda Kulit Hitam menjauhinya karena tidak menyetujui prinsip antikekerasan yang diusungnya. Sebaliknya, King Jr. tidak pernah berhenti dan menyebarluaskan programnya. Ia tak hanya berjuang melawan diskriminasi kaum Kulit Hitam di AS, tetapi juga menentang Perang Vietnam. 
  Kebesaran King Jr. terutama terletak pada mimpinya yang besar, yang dicetuskannya dalam pidatonya yang berjudul "I have a Dream" dalam parade berbarisnya ke Washington DC (28 Agustus 1963). Itulah yang membuatnya makin terkenal dan mendapatkan banyak gelar terhormat. Pada 1963, ia menerima Penghargaan Perdamaian Nobel. Namun, ia kemudian meninggal karena ditembak ketika melakukan aksi di Memphis pada 4 April 1968. Guncangan dari kematiannya menyebabkan banyak kerusuhan dan bentrokan di berbagai kota di seluruh AS waktu itu.
  Beberapa kalimat dalam pidato King Jr. yang kiranya patut disimak adalah sebagai berikut: "I have a dream that my four children will one day live in a nation where they will not be judged by the color of their skin but by the content of their character." Sekarang, mimpi pendeta Kulit Hitam itu, untuk suatu saat kaum kulit berwarna dapat berdiri setara dengan kaum Kulit Putih yang selama ini dominan di AS telah menjadi kenyataan. Barrack Hussein Obama, yang berkulit hitam itu, telah menjadi presiden ke-44 AS. 
  Sebuah pertanyaan yang patut kita renungkan adalah: bukankah hal yang "wajar" jika Orang Kulit Putih di AS yang dominan itu merekayasa pemilihan presiden 4 November lalu demi menghadang kemenangan Obama yang bukan bagian dari WASP-group itu? Namun, fakta bicara: demokrasi AS ternyata sudah semakin maju. Terbukti, pelbagai negative dan black campaign terhadap Obama pun tak membuat sebagian besar pemilih memalingkan wajahnya dari kandidat presiden keturunan Kenya, Afrika, itu.
  Demam Obama kini melanda dunia, termasuk Indonesia. Lalu, pesan apa saja yang mestinya kita ambil demi memajukan demokrasi yang baru bergulir pasca-Soeharto ini? Pertama, sudah saatnya kita juga mengusangkan sistem dan budaya demokrasi berlandaskan apa yang kerap disebut asas proporsionalitas. Sebagai gantinya, meritokrasilah yang harus dikedepankan. Kedua, inilah saatnya meninggalkan sentimen-sentimen primordialistik dalam praktik demokrasi. Jawa dan non-Jawa, Islam dan non-Islam, dan lainnya, mestinya tidak menjadi acuan kita lagi dalam mempraktikkan demokrasi. Apalagi Indonesia adalah bangsa yang majemuk, yang telah menjadikan "Bhineka Tunggal Ika" sebagai semboyannya sejak dulu.

Victor Silaen
Dosen Fisipol UKI, Pengamat sospol 





Senin, 22 Desember 2008

Dialog Demokrasi dan Kedamaian

SEPANJANG tahun 2008, di samping persiapan Pemilu 2009, kita juga giat ikut membangun kehidupan yang lebih adil dan damai, baik melalui pertemuan ekonomi, politik, budaya maupun lintas agama. Indonesia ambil bagian aktif dalam kegiatan APEC yang beranggotakan 21 negara di Asia-Pasifik itu guna ikut membangun integrasi ekonomi regional, reformasi struktural, dan outlook ekonomi global yang lebih adil. Dan itu dituangkan dalam Deklarasi Lima di Lima, ibukota Peru. 
 Sebelumnya Indonesia mengikuti G-20 yang melahirkan Deklarasi Washington menyangkut reformasi pasar finansial guna mengembalikan pertumbuhan dan stabilitas ekonomi global yang tidak merugikan negara-negara berkembang. Indonesia juga mengikuti Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Europe Meeting ( ASEM) di Beijing China yang diikuti oleh 16 pemimpin negara/pemerintahan dari Asia dan 27 dari Eropa.
ASEM memang merupakan forum yang membuka peluang dialog maupun kerja sama di bidang politik, ekonomi dan budaya. Tetapi dalam kesempatan KTT di Beijing ini, Indonesia hanya mengambil satu paket kegiatan saja yakni dialog antarkeyakinan dan antiterorisme (interfaith and counter-terrorism).
Di samping problem ekonomi sosial dan politik, Indonesia dalam tahun 2008 memang melihat masalah tindak kekerasan dan terorisme terutama yang mengatasnamakan agama merupakan masalah serius yang harus dihadapi. Karena itu masalah dialog antaragama atau antarkeyakinan yang berskala regional maupun global sepanjang tahun 2008 ini juga aktif dilakukan oleh kalangan cendekiawan dan ormas keagamaan yang ada di Indonesia, khususnya NU dan Muhammadiyah sebagai dua ormas terbesar di Indonesia.  
Din Syamsuddin, pimpinan Muhammadiyah, menghadiri forum Islam-Katolik yang pertama di Vatikan yang diikuti 25 orang tokoh dari masing-masing agama untuk membahas peran kedua umat beragama untuk menemukan “landasan bersama” guna ikut menanggulangi masalah-masalah umat manusia di dunia agar tercipta suatu kehidupan yang lebih damai dan demokratis dengan prinsip menghargai perbedaan dan mengembangkan persamaan yang ada.  
Pertemuan Islam-Katolik yang baru pertama kali terjadi dalam sejarah menurut Din Syamsuddin untuk menghadapi “musuh bersama” yang bukan berbentuk sesama manusia yang kebetulan di luar lingkaran agama yang dipeluk melainkan masalah kemanusiaan seperti kebodohan, kemiskinan, keterbelakangan, kerusakan lingkungan, dan ketidakadilan.
Pada tahun 2008 ini pula Indonesia menjadi tuan rumah Konferensi Internasional Cendekiawan Islam (ICIS) III yang diselenggarakan oleh Pengurus Besar NU dan World Peace Forum (WPC) II yang diselenggarakan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Kedua forum dialog berskala internasional ini dihadiri oleh banyak negara yang mengharapkan agama menjadi solusi membangun kedamaian bukan perpecahan.
 Sementara itu Indonesia juga menjadi tuan rumah penyelenggaraan Bali Democracy Forum (BDF) yang berskala internasional dan dikembangkan dengan berdirinya Institute for Peace and Democracy sebagai hasil kerja sama antara Universitas Udayana dan Departemen Luar Negeri RI. Lembaga ini diharapkan akan memberikan kontribusi nyata bagi perdamaian dan demokrasi di Asia maupun di belahan dunia lainnya. Dan Indonesia juga menjadi tuan rumah dalam penyelenggaraan pertemuan Perdamaian Dunia II yang banyak dihadiri oleh tokoh-tokoh internasional dari 56 negara.
 Dengan mempelajari selintas kegiatan Indonesia (baik pemerintahnya, ormas nonpemerintah/NGO maupun perorangan) tersebut memperlihatkan bahwa Indonesia selalu aktif dalam kegiatan untuk menciptakan penegakan demokrasi dan kedamaian dunia.

HD Haryo Sasongko
sadewa48@gmail.com

Selasa, 16 Desember 2008

Selamat dan Keselamatan

TIDAK terasa hari Natal semakin dekat; rasanya masih belum lama saya menulis tentang Liburan Natal pada Desember tahun lalu. Maka sebelum terbenam pada kegiatan-kegiatan di akhir tahun ini, saya ingin mengucapkan 'Merry Christmas 2008 and Happy New Year 2009', yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan dengan 'Selamat Hari Natal dan Selamat Tahun Baru'.
Dalam bahasa Inggris, 'Merry', 'Happy' atau 'Good' disebut sebagai greeting, suatu ucapan sapaan yang mengandung harapan. Mereka mengucapkan 'Merry Christmas', Christmas yang Ceria/Gemerlap, karena mereka mendambakan musim dingin di bulan Desember yang memberi warna kelabu yang suram segera berganti dengan cuaca yang terang yang gemerlap.
'Happy New Year', Tahun Baru yang berbahagia, untuk mengungkapkan harapan mereka akan kehidupan yang lebih baik, jauh dari kesusahan selama musim dingin. 'Good morning', karena mereka mengharapkan cuaca pagi yang baik. Kehidupan orang Inggris tampaknya selalu dihantui oleh keadaan musim atau cuaca yang buruk. Lain lagi dengan orang Arab, mereka mengucapkan 'Assalamualaikum' , damai bagimu, sebagai harapan tidak terjadi pertikaian/peperangan seperti yang sering terjadi saat itu. 
Sedangkan sapaan yang kita kenal dalam bahasa Indonesia adalah 'Selamat'. Selamat Natal, Selamat Tahun Baru, Selamat Ulang Tahun, Selamat Tinggal, Selamat Jalan dll, semua memakai kata 'selamat'. Karena dahulu (konon kabarnya) melakukan suatu perjalanan di Nusantara selalu dipenuhi dengan ancaman bahaya diserang oleh binatang buas, maka kita sangat mendambakan perjalanan kita dapat dilalui dengan selamat.
Selamat dan keselamatan telah menjadi perhatian (concern) kita sejak zaman dahulu. Maka agak aneh kalau sekarang kita mulai mengabaikan unsur keselamatan. Apakah kita merasa saat ini, di lingkungan kita, tidak ada lagi harimau atau buaya sehingga kita merasa aman sepanjang perjalanan kita?
Mana ada banteng atau badak yang dapat menyeruduk kita dalam perjalanan kita dari rumah ke kantor? Mungkin dekat halte Rangunan masih banyak binatang buas, tetapi mereka bukan ancaman karena terkurung dalam kandang mereka di kebun binatang 
Rangunan. Seolah ancaman keselamatan tidak ada lagi, karena telah dikurung oleh teknologi yang canggih dan yang mutakhir.
Tapi ancaman bahaya pada hakekatnya masih ada; dan ia ada di mana- mana. Mereka seolah-olah di bawah kendali kita, tapi sebenarnya mereka sedang mencari celah, mencari kesempatan untuk mewujudkannya. Seperti buaya yang tidur dengan mulut terbuka; yang siap mencelakakan mangsanya, seperti badak yang dapat menyeruduk kita 
dari arah yang tidak terduga.
Ancaman bahaya hanya menunggu mangsanya lengah. Halte pada jalur yang sempit dan berkelok; konstruksi halte; tonjolan JPO halte di jalur busway; celah antara bus dan anjungan halte; mixed traffic antara TiJe dan kendaraan kecil terutama sepeda motor; penyerobotan jalur dan lampu merah baik oleh kendaraan pribadi maupun kendaraan umum, termasuk TiJe; zebra cross di jalan yang ramai; design dan konstruksi bus; perawatan bus yang seadanya; lokasi SPBU di dekat area pemukiman dll semuanya ini adalah potensi ancaman bahaya yang sedang menunggu kesempatan.
Parahnya lagi, ancaman ini kadang tidak hanya menunggu kelengahan kita. Kita mungkin dapat berlalulintas dengan baik, dapat berhati- hati, selalu waspada, tidak lengah. Tapi teknologi yang tidak selalu error free dan kecerobohan pihak lain, tetap dapat menjadi ancaman keselamatan kita.
Pemerintah, sebagai regulator, hendaknya kembali memperhatikan segi keselamatan, terutama dalam bidang transportasi. Jangan sampai terlambat, setelah jatuh korban. Dan kita semua, masyarakat, untuk selalu memulai segala sesuatunya dengan doa. Sekali lagi, Selamat Natal 2008 dan Selamat Tahun Baru 2009 bagi yang merayakan.

Dave Chyn 
dave_chyn@yahoo.com


Rabu, 10 Desember 2008

Kejagung Kendaraan Partai Politik Tertentu

KEJAKSAAN Agung harusnya bisa mengakomodir kemauan dari para korban yang selamat maupun keluarga korban yang hingga saat ini masih mencari anggota keluarganya yang belum pulang akibat ‘permainan’ politik pada kasus penculikan aktivis 1997-1998. Sebagai departemen yang diamanatkan untuk menegakkan hukum oleh negara tidak dapat berbuat lebih, tapi malah menjadi ‘antek’ dari pelaku yang hingga kini masih berada di belakang layar.
Niat baik sebaiknya sejalan dengan teknis peradilannya. Namun, peradilan HAM (hak azasi manusia) yang dilakukan pada tahun 1999 atas 11 orang aktivis yang hilang, seyogyanya berbeda ketika menyikapi ke-13 orang aktivis yang hingga kini masih belum diketahui di mana keberadaannya.
Tindakan lain yang tidak menunjukkan niat baik Kejagung juga dikatakan Marwan Effendi, Jampidsus, yang menyebutkan bahwa berkas yang dibawa Komnas HAM belum memenuhi syarat hukum. Ini sudah sangat tidak bisa ditolelir. Karena, sudah terbukti adanya orang yang hilang dan beberapa berkas sudah dilampirkan tapi tidak ada tindakan untuk mengakomodir keinginan Komnas HAM, tapi malah beralasan lain. 
Ini jelas aneh! Seharusnya Kejagung bisa berdampingan dengan Komnas HAM serta menyelesaikan hal ini, ya mungkin dengan membentuk pengadilan HAM Ad-hoc—seperti keinginan bersama antara DPR-RI dan Komnas HAM. Hal yang menggelikan lagi, Hendarman Supandji, Jaksa Agung, kini sedang menemani Presiden SBY ke Bali. Apa memang ada keberanian Jaksa Agung untuk segera menyelesaikan persoalan ini? 


Fadli Eko Setiyawan
Jalan Tanah Kusir II RT009/RW 09 Kebayoran Lama 
Jakarta Selatan-12240

7 Platform ‘45’ Kaum Nasionalis 45

MENGANTISIPASI keprihatinan bahwa Indonesia Rapuh dan Perlu Reideologisasi [Kompas 9 Desember 2008], maka diluncurkanlah 7 Platform ‘45’ Kaum Nasionalis 45 sebagai berikut :

1. Al Qur an Surah-45 Al Jaatsiyah (Yang Berlutut), yang mengutarakan tentang Al Quran yang diturunkan Allah, Pencipta dan Pengatur semesta alam. Sesungguhnya segala macam kejadian yang terdapat pada alam dapat dijadikan bukti bagi adanya Allah, kecelakaan yang besarlah bagi orang yang tidak mempercayai dan mensyukuri nikmat Allah, segala puji hanya untuk Allah saja, Keagungan hanyalah Kepunyaan Allah.
2. Lima Bangunan Utama Kerajaan SOENDA [1345] yaitu (2.1) Bangunan Bima Resi untuk musyawarah Keagamaan, (2.2) Bangunan Punta Dewa untuk musyawarah Persatuan dan Kesatuan Rakyat dan Wilayah Teritorial, (2.3) Bangunan Narayana tempat musyawarah menjaga hak-hak Kemanusiaan Rakyat sebagai manusia yang bermartabat, (2.4) Bangunan Madura tempat Musyawarah Mufakat para tokoh masyarakat, (2.5) Bangunan Suradipati tempat musyawarah Keamanan, Kesejahteraan dan Keadilan
3. Ajaran Lima Pintu Utama Kerajaan GALUH PAKUAN [1545] yakni (3.1) Semiaji bermakna Kemanusiaan, (3.2) Bratasena bermakna Persatuan, (3.3) Harjuna bermakna Keadilan, (3.4) Nakula bermakna Kerakyatan, (3.5) Sadewa bermakna Ketuhanan
4. PANCASILA [1945] ialah (4.1) Ketuhanan Yang Maha Esa, (4.2) Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab, (4.3) Persatuan Indonesia, (4.4) Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmah Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan/Perwakilan, (4.5) Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia [TAP No. II/MPR/1978]
5. Proklamasi Indonesia Merdeka [17 Agustus 1945]
6. Undang Undang Dasar 1945
7. Jiwa, Semangat, Nilai-nilai 45 dengan Nilai Operasional (7.1) Ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, (7.2) Jiwa dan Semangat Merdeka, (7.3) Nasionalisme, (7.4) Patriotisme, (7.5) Rasa Harga Diri sebagai bangsa yang merdeka, (7.6) Pantang mundur dan tidak kenal menyerah, (7.7) Persatuan dan Kesatuan, (7.8) Anti Penjajah dan Penjajahan, (7.9) Percaya kepada diri sendiri dan atau percaya kepada kekuatan dan kemampuan sendiri, (7.10) Percaya kepada Hari Depan yang gemilang dari bangsanya, (7.11) Idealisme Kejuangan yang tinggi, (7.12) Berani, rela dan ikhlas berkorban untuk tanah air, bangsa dan negara, (7.13) Kepahlawanan, (7.14) Sepi ing pamrih rame ing gawe, (7.15) Kesetiakawanan, senasib sepenanggungan dan Kebersamaan, (7.16) Disiplin yang tinggi, (7.17) Ulet dan Tabah menghadapi segala macam ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan.

Dengan kebulatan tekad menuju Indonesia Digdaya 2045

Dr Ir Pandji R Hadinoto, MH 
www.frontnas45.co.cc


*) Anggota, Badan Pembudayaan Kejuangan 45 [No. CB.04.05.01866]

Pendidikan Antikorupsi Sejak Dini

MEMBENTUK sikap antikorupsi sejak dini jelas merupakan tindakan yang patut didukung. Internalisasi sikap antikorupsi bisa lewat penegakan hukum maupun pendidikan yang bernilai preventif dan edukatif. Arah dari semua langkah itu adalah membangun kultur perlawanan terhadap budaya korupsi. Baik dengan sifat menciptakan efek jera, menebarkan budaya malu, mencegah agar para calon pelaku takut untuk berbuat serupa, hingga penalaran-penalaran lewat proses edukasi.
Kantin Kejujuran di sekolah-sekolah boleh jadi berkesan simbolik, tetapi kita memercayai muatan sifat edukasinya. Kita menyadari, eksistensinya mungkin terlalu kecil di tengah gelombang budaya korupsi dan erosi kejujuran yang mendera bangsa ini. Namun jalan pikiran itu mesti dibalik, kalau kelak sekolah-sekolah di seluruh Indonesia membudayakan gerakan yang sama, bukankah manfaat besarnya akan sama-sama kita rasakan?
Teknisnya, tiap pembeli boleh mengambil barang apa pun di kantin tersebut, membayarnya, dan mengambil sendiri uang pengembaliannya. Tidak ada penjual atau penjaga yang mengawasi, sehingga kalau seseorang mau bersikap tidak jujur dengan mengambil tanpa membayar atau membayar semaunya saja, tidak akan ada orang yang tahu. Yang dibutuhkan adalah mendengarkan suara hati nurani, dengan merasa tanpa diawasi pun hati dan tindakannya tetap harus mewujud ke sikap jujur. Maka ukuran sukses atau tidaknya tujuan kantin tersebut akan terlihat dari neraca keuangannya, apakah secara bisnis bisa berjalan terus atau bangkrut.
Jika rakyat tidak jujur, negara akan hancur. Analog itu diberikan untuk menggambarkan kantin sebagai sebuah negara. Jika pembelinya tidak membayar sesuai kewajibannya, maka modal yang dimiliki tentu akan tergerogoti. Kekayaan dalam bangunan sebuah negara akan habis jika ketidakjujuran yang merupakan basis sikap korup terjadi merajalela.
Bermacam jalan telah ditempuh untuk membangun kejujuran yang bertaut dengan menebar budaya malu. Di antara beragam kreasi elemen rakyat yang peduli, Kantin Kejujuran merupakan ungkapan perlawanan terhadap korupsi secara edukatif. Para pelaku korupsi, atau mereka yang berada dalam lingkaran kekuasaan mestinya tersentuh ketika anak-anak muda sekarang ini telah mengembangkan penalarannya sendiri untuk membangun budaya jujur, budaya malu, dan budaya antikorupsi. Sesungguhnyalah mereka tengah mengasah bahasa hati. Dan, disadari atau tidak, itulah sumbangsih para remaja untuk menyelamatkan Indonesia.

Rosi Sugiarto
rosi.sugiarto@pajak.go.id

Terima Kasih Ibu Ariana dan Bapak Haryanto

Rabu (10/12) kemarin, kami menerima kiriman foto lewat email dari Ibu Ariana Handari. Foto itu menggambarkan hasil karya serat yang sangat indah. Maka, kami sangat ingin mengenal lebih jauh si pengirim foto. Dan ternyata, Ibu Ariana mengaku sebagai pelanggan Merdeka. Dengan konsep citizen journalism, Ibu Ariana berminat mengirimkan artikel-artikelnya. 
Haryanto Kandani--seorang motivator terkenal yang wartawan Merdeka wawancarai, juga berminat untuk menulis di harian ini. Sungguh ini sangat menyenangkan kami. Kami sangat terbuka menerima tulisan siapapun, karena semua pembaca punya hak untuk mengirimkannya.
Bicara soal hak, kemarin masyarakat dunia memperingati Hari Hak Asasi Manusia (HAM) ke-60. Di Jakarta, peringatan tersebut juga diwarnai aksi demonstrasi massa buruh. Tentu saja, wartawan kami melakukan reportase aktivitas tersebut.
Di momen Hari HAM ini, marilah kita bersama-sama memelihara kejernihan suara nurani, menyampaikan seruan agar terjadi perubahan yang lebih baik pada kehidupan masyarakat Indonesia. Selamat Hari HAM!

Sastra Daerah vs Sastra Jakarta

SEBAGAI penyuara roh zaman, sastra menempati posisi strategis dalam menunjukkan pergerakan peradaban lokasi terkait. Ada keterkaitan tak terpisahkan antara kehidupan di daerah dan di Jakarta dalam banyak novel. Tema Jakarta dan tema daerah dalam novel-novel yang kisah tokohnya melibatkan lokasi Jakarta atau daerah secara dominan dapat dikatagorikan sebagai novel yang mampu mengangkat citra daerah atau Jakarta dalam sastra. 
Misalnya, Novel Novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari menyuarakan kehidupan Ronggeng Srintil di Jawa Tengah. Novel Para Priyayi karya Umar Kayam menyuarakan kehidupan priyayi di Jawa yang tak lepas kisahnya dengan anak-anaknya yang kemudian tinggal di kota besar. Novel Hubbu tentang pencarian identitas sosial di dunia pesantren di daerah tapal kuda Jawa Timur dan Surabaya. Novel Mutiara Karam karya Tusiran Suseno menceritakan kehidupan pelaut dan bajak laut di kepulauan Riau.
Pengaruh asal-usul pengarang terhadap karya sastra ini, apa pun yang dialami pengarang berdasar daerahnya lebih berasosiasi pada sesuatu yang telah membentuk dan memberi nafas hidup pada dirinya; termasuk nafas daerah dan tradisi, baik ia tetap tinggal di daerahnya maupun sudah pindah ke darah lain Jakarta misalnya.
Banyak pengarang yang malah produktif menulis karya-karya tentang daerah asalnya ketika ia tinggal di tempat yang jauh dari daerah itu. Ada semacam memori, rasa kangen, kristalisasi pengalaman, yang semua dapat dengan deras ditumpahkan menjadi sebuah karya bila ia mengambil jarak dari kisah yang dituliskan. 
Tak jarang sastra tentang daerah ditulis bukan di daerah asal pengarangnya. Mungkin sesudah ia menjadi orang Jakarta baru bisa menulis tentang daerahnya setelah dipisahkan waktu dan tempat. Hal ini terkait dengan katarsis pengarang dalam menuangkan ide dan gagasan. Kembali lagi ke personal masing-masing; mencipta dengan deras ketika bersentuhan dengan obyek tulisan ataukah justru bila dalam hening.
Tak heran, novel Upacara yang mengisahkan kehidupan tradisi di Kalimantan ditulis Korie Layun Rampan di Jakarta sebagai orang urban pada masa mudanya. Terkait kota urban, fenomena kepengarangan bahkan lebih luas, ambillah contoh Novel Para Priyayi karya Umar Kayam juga ditulisnya ketika ia berada di luar negeri.
Ada pun kegitan-kegiatan penunjang kemajuan sastra di Jakarta jauh lebih banyak dan menjamur dibanding kegiatan-kegiatan di daerah. Jakarta laksana etalase toko bagi kegiatan di segala bidang kehidupan, berkesenian, termasuk sastra. Tiada hari tanpa kegiatan di Jakarta bahkan sampai pada malam hari, memacu sastra di Jakarta 'kelihatan'
berkembang pesat.
Namun, kegiatan sastra tidaklah identik dengan keramaian. Bisa jadi kegiatan sastra sangat dekat dengan sunyi, kesendirian, yang banyak dimiliki oleh sastrawan di daerah dalam berkaya di ruang sunyi. Tetapi, ruang sunyi sendiri dalam konteks berkarya bagi setiap orang adalah berbeda-beda. Misalnya, Arswendo Atmowiloto justru sangat produktif di keramaian, sementara di sebagian banyak orang mereka lebih produktif dalam kesunyian. 
Maka dalam konteks ini, hiruk pikuk bagi pengarang ini adalah sunyi. Arswendo sendiri sekarang tinggal di Jakarta, sehingga ia lebih dikenal sebagai sastrawan Jakarta. Dengan konteks kemajuan berkarya sastra antara daerah dan Jakarta, maka jelas soal kreativitas
sejatinyalah tidak memandang lokasi, daerah atau Jakarta. Namun, tergantung pribadi sastrawannya masing-masing. 

Yonathan Rahardjo
yonathanrahardjo@gmail.com

*) Penulis novel Lanang dan Pemenang Lomba Novel 

Dewan Kesenian Jakarta 2006

Media Massa vs Blog

ANGGARAN periklanan yang disedot dari perusahaan-perusahaan besar menurun pesat dikarenakan produk-produk periklanan langsung yang ditawarkan oleh mesin-mesin pencari dan alat-alat lainnya. Publikasi-publikasi media mem-PHK wartawan-wartawan mereka, mengonsolidasi reporter-reporter dadakan, mengurangi terbitan-terbitan cetak mereka, dan banyak penerbit benar-benar tutup sama sekali. 
Biaya operasional blog lebih rendah daripada media tradisional dan sering dianggap memiliki liputan dan analisis berita yang lebih baik. Blog-blog kian banyak bermunculan untuk menggantikan media tradisional dengan model bisnis yang berbiaya rendah secara berkelanjutan.
Kebangkitan media sosial merupakan tren terdepan di dunia PR dan komunikasi pemasaran saat ini. Di antara para komentator terkemuka mengenai konvergensi media tradisional dan sosial dalam PR adalah Brian Solis, yang memperkenalkan istilah “PR 2.0” pada tahun 1993.. Simpelnya, PR 2.0 adalah bagaimana PR berintegrasi dengan dunia bisnis dewasa ini yang sarat teknologi.
Rilis-rilis media sosial, optimasi mesin pencari, content publishing, dan diperkenalkannya Podcast dan video merupakan tren-tren yang terus berkembang lainnya. 
Di Perspektif Online, 27 Juni 2007, Wimar Witoelar mengatakan, bahwa Public Relations (dan berbagai pendekatan komunikasi pemasaran dan korporat lainnya) di masa depan akan tergantung kepada keterampilan memanfaatkan Web 2.0. Model komunikasi horizontal seperti terlihat pada Facebook, Friendster, Flickr, blog dan pemanfaatannya dalam citizen journalism akan menjadi media paling efektif dalam menyampaikan pesan-pesan PR. Kalau corporate website, portal berita dan beragam situs informasi membuktikan kegunaan Web 1.0, maka komunikasi lintas pemakai dalam model Web 2.0 akan memberikan leverage kepada kekuatan PR melalui Web 2.0 yang mengintegrasikan komunikasi warga dengan (dalam bahasa Inggris supaya jelas) networking, collective intelligence, long tails. 
Dengan cara ini masa depan PR ada pada partisipasi atau gaul dalam masyarakat, bukan pada pitching. Dikatakan oleh Steve Rubel: “ Masyarakat PR harus keluar dan berdiri di depan tirai, menjadi sedikit lebih ahli secara teknis dan berpartisipasi secara transparan sebagai individu di dalam komunitas-komunitas online. Kita akan harus berkolaborasi secara terbuka dan menambahkan nilai pada jejaring dan membantu perusahaan-perusahaan yang kita wakili agar melakukan hal yang persis sama.”
Menghadapi kenyataan bahwa pitching secara konvensional menjadi semakin susah dengan publik yang lebih cerdas, maka menjual ide atau produk lebih efektif melalui percakapan dan bocoran melalui RSS dibandingkan dengan komunikasi langsung. Website yang partisipatif seperti blog sudah menjadi pilihan bagi media modern bahkan yang berakar di pers cetak, seperti kolumnis kelas dunia dan pengamat pasar dan investasi. 


Soedarsono Esthu 
esthusoedarsono@yahoo.com

Senin, 08 Desember 2008

Kami Membuka Pintu Lebar-lebar

Kemarin, kita merayakan Hari Raya Idul Adha. Di mana umat muslim yang mampu telah menjalankan ibadah kurban. Mereka memotong kambing atau sapi untuk kemudian dibagi-bagikan kepada kaum dhuafa. Ibadah yang dilaksanakan setahun sekali ini mampu mengasah rasa empati umat terhadap sesama. 
Masih dalam suasana persahabatan, kami juga ingin berbagi informasi dengan Anda semua.
Belakangan ini, interaksi antara redaksi, jurnalis warga (penulis citizen journalism) dan pembaca makin hangat saja. Sebagai contoh, tulisan dari warga mengenai ‘Coca Cola Asli atau Palsu?’ (Merdeka, 6/12), langsung mendapat tanggapan dari Legal Cola Cola. Belum lagi telepon redaksi yang terus berdering, faks dan SMS yang masuk. Baik berisi masukan, kritik, pertanyaan, atau sumbang tulisan. 
Intinya, kami sangat terbuka menerima apapun dari pembaca. Entah itu tulisan, keluhan, hak jawab. Bahkan, kami membuka pintu lebar-lebar kepada beberapa pembaca yang datang ke kantor untuk memasukkan tulisan atau foto. 

BRI Kurang Kontrol ATM

DULU saya menabung di BRI. Tapi, karena ada kejadian yang membuat saya kecewa lalu saya memutuskan untuk menutup buku tabungan. Saya selalu mengambil tabungan di salah satu ATM BRI di Tangerang, namun kerap kali saya hanya bisa gigit jari karena uang di ATM tersebut habis dan itu sampai berhari-hari. 
Kontrol dari pihak yang bersangkutan sangat minim, sehingga pengisian uang tidak terkoordinir dengan baik. Adanya masalah ini dan ATM yang agak sulit ditemui membuat saya memutuskan untuk berhenti menabung di BRI. Jika masalah seperti ini tidak cepat diatasi, tidak tertutup kemungkinan nasabah-nasabah lain akan berguguran.
Setelah menutup buku tabungan BRI saya beralih ke BSM (Bank Syariah Mandiri). Ternyata saya juga mendapati masalah dengan ATM bank ini. Pernah saya mendatangi ATM BSM di kawasan Blok M untuk mengambil uang. Setelah saya masukkan kartu, mesin ATM tidak memproses apa-apa. 
Dengan hati yang berdebar saya menunggu kartu saya yang tidak juga keluar dari mesin. Beberapa menit kemudian kartu baru berhasil keluar. Setelah dicoba beberapa kali hal serupa terjadi. Mesin tidak memproses, uang tidak keluar dan kartu hampir ’tertelan’. Begitu juga dengan mesin ATM BSM di kawasan Tangerang. Saya berharap semoga pihak BSM dapat memperbaiki pelayanan fasilitas agar menjadi lebih baik. andri

Dian Amalia Handayani 
Jalan Kebalen 7 Blok S, Jakarta Selatan
09.5307.650787.0093 
021-99621xxx
dian.d2tf@gmail.com

Upaya Memberantas Korupsi tak Menyeluruh

KORUPSI sudah mengakar dan mendarah daging di hampir semua lapisan masyarakat, mulai pejabat yang berkuasa sampai rakyat kecil sekalipun dalam segala bentuknya di bidang masing-masing. Meski di permukaan sepertinya pemerintahan SBY getol dan berhasil membasmi koruptor, sejatinya upaya memberantas korupsi menjadi tidak dapat terjadi secara menyeluruh, merata, sampai ke akar-akarnya.
Koruptor yang kurang punya daya dukung 'keamanan' dapat dengan mudah ditangani, tergantung kemauan dari yang bersangkutan dan orang yang punya otoritas untuk mengungkapnya. Sebagai ilustrasi gampang contohnya koruptor jam absen kerja di kantor, koruptor uang dinas kantor, dengan mudah atasannya melakukan disiplin kantor. Dalam skala besar, koruptor yang tidak mempunyai kiat korupsi dapat dengan mudah ditangkap dan diadili serta dihukum. 
Jenis kedua, katagori koruptor kelas kakap. Pada katagori ini, sulit membuktikannya, karena daya dukung keamanan mereka begitu kuat. Korupsi kelas kakap bahkan sudah membuat penguasa mempunyai akar-akar kekuasaan yang melanggengkannya, bahkan pada pemilu demi pemilu. Kekuatan politik yang berkuasa di masa lalu tetap mempunyai pengikut fanatik, karena kekuatan hasil korupsi telah dibagi rata, semua mendapat bagian. 
Penguasa-penguasa sekarang pun sebetulnya tidak bebas dari korupsi-korupsi kroni-kroninya; justru merekalah pelindung dari para pelaku korupsi itu, karena utang-utang tertentu: utang budi, utang keamanan, utang harta. Tak heran mantan penguasa dan anaknya yang sudah benar-benar terbukti korupsi masih bisa menikmati hidup kaya raya tak habis-habisnya sampai tujuh keturunan.
Kalau mau menangkap koruptor yang kuat ikatan dengan kroni-kroninya, pakailah cara tradisional dalam memecah belah mereka, adu domba antar koruptor dengan kroninya. Biarkan masing-masing pihak 'bernyanyi', itulah saatnya KPK panen koruptor. Atau jalan pintasnya, hubungilah Amerika dan Sekutunya, dan buktikan pada mereka bahwa koruptor kelas kakap itu adalah musuh mereka kelas wahid. Alhasil nasibnya akan
seperti Saddam Husein yang telah dialgojo mati. Tapi sayang, pemerintah sekarang bahkan sebelumnya yang di balik semuanya masih menggurita korupsi demi korupsi masih terbilang sahabatnya Amerika; sehingga upaya pemeberantasan korupsi selalu diselimuti berbagai politik dan kepentingan lain terkait negeri polisi dunia ini.
Jelas di sini, kita harus bergulat dengan waktu dengan norma baku penegakan hukum yang butuh disiplin dan integritas dari para penegak hukum.

Yonathan Rahardjo
yonathanrahardjo@gmail.com

Lebih Mempererat Tali Persaudaraan

ALHAMDULILLAH. Dengan adanya hari raya kurban atau biasa yang dikenal dengan Idul Adha, diri kita sebagai umat manusia (muslim khususnya) semakin mempererat tali persaudaraan. Terjalinnya silaturahmi ini dengan mempersembahkan yang terbaik buat saudara-saudara kita setanah air untuk ikut merasakan nikmatnya daging kurban tanpa harus membeli, apalagi harga daging kini masih berada jauh di atas harga jangkauan masyarakat. 
Dari berbagai analisis, untuk memastikan bahwa hewan kurban itu dapat dikonsumsi—sudah sepantasnya untuk dibagi-bagikan untuk saudara-saudara kita yang lebih membutuhkan. Untuk memperbaiki gizi dan mengutip bahasa saudara-saudara kita umumnya, “Setahun sekali boleh saja merasakan makan daging dalam jumlah yang lebih dari cukup. Supaya kita ikut merasakan rezeki saudara kita yang punya kelebihan harta.”
Semestinya, perkataan itu tidak harus disebutkan oleh saudara-saudara kita yang kondisinya memang amat membutuhkan bantuan. Namun, kondisi yang mendesak untuk mengekspos ‘kondisi’ mereka agar masyarakat yang dikatakan mempunyai kelebihan harta itu tergerak hatinya. 
Kegembiraan bersama ini pun tidak serta-merta menjadi kegembiraan saudara-saudara kita tersebut. Kenyataan yang menerpa saudara-saudara kita itu sekali lagi ditambah lagi dengan “kurang bersahabatnya” harga minyak tanah untuk memasak daging kurban. 
Apa dengan kondisi seperti ini daging itu hanya dilihat lalu matang dan simsalabim berubah menjadi daging lezat siap santap? Faktor lain ikut mengiringi. Harga beberapa bahan untuk menjadikan daging itu bisa disantap pun masih ‘mencekik’. Bahan lainnya agar daging itu berubah menjadi lezat seperti bawang merah, cabe merah, minyak goreng, dan lain sebagainya masih ada jauh di atas harga yang bisa dijangkau oleh saudara-saudara kita. 
Memasak pun baik dengan menggunakan minyak tanah atau gas masih menjadi kendala agar daging itu bisa dimakan bersama-sama anggota keluarga lainnya. 
Semestinya, fenomena seperti ini apalagi di hari baik ini selain para pejabat yang mempunyai kelebihan harta lalu disumbangkan melalui hewan kurban, tapi juga orang-orang di pemerintahan tergerak hatinya. Agar saudara-saudara kita bisa menyajikan daging kurban yang lezat, sekali lagi. Artinya, dengan adanya Idul Adha ini selain memberikan ‘sejumput’ daging kurban, tapi pemerintah bisa berperan untuk menurunkan harga minyak tanah dan bahan baku makanan lainnya. 

Fadli Eko Setiyawan
Jalan Tanah Kusir II RT009/RW 09
Kebayoran Lama Selatan
Jakarta Selatan-12240

Jumat, 05 Desember 2008

Klaim Asuransi Selalu Bertele-tele

Torway
Pensiunan
Pamulang Barat Tangerang

SAYA kecewa dengan asuransi kesehatan, yang ketika diklaim selalu bertele-tele dalam mencairkan uang pertanggungan buat nasabah. Karena bertele-tele itulah, sebuah klaim asuransi kesehatan baru direalisasi setelah memakan waktu lumayan lama.
Dengan proses yang bertele-tele seperti itu, otomatis telah melunturkan kepercayaan masyarakat pada asuransi. Saya merasakan ini, ketika saya menjadi nasabah Asuransi Bumi Putera. Seharusnya pihak Asuransi Bumi Putera bertanggung jawab atas seluruh klaim, sehingga pada gilirannya tidak merugikan nasabahnya. angga pahlevi


Asuransi Asing Lebih Bagus

Hari Susanto
Jalan Pancoran Barat No. 7B Jakarta 
021-7945xxx

SAYA sebagai karyawan salah satu perusahaan kapal pesiar lebih memilih berpindah asuransi, ke asuransi yang ada di luar negeri. Alasan kepindahan saya, karena berbagai pertimbangan. Di antaranya, waktu penyetoran yang lebih longgar, proses klaim yang lebih cepat.
Untuk itu, saat ini saya menjadi nasabah asuransi American Express. Dalam pandangan saya, asuransi ini lebih bagus dibandingkan dengan AIG Lippo. Sebagai perbandingkan, saya bisa menyetor ke pihak asuransi American Express tiga bulan sekali. Berbeda dengan AIG Lippo yang mengharuskan saya menyetor setiap bulan.
Dalam hal pemanfaatannya, di bulan pertama American Express sudah bisa kita nikmati. Berbeda dengan AIG Lippo baru bermanfaat setelah masuk asuransi selama 16 bulan.
Soal proses pencairan dana asuransi, American Express hanya membutuhkan waktu 2 jam saja. Lain halnya dengan AIG Lippo, butuh waktu 4 hari.
Pertimbangan-pertimbangan kemudahan inilah yang membuat saya berpindah ke jasa asuransi asing. Ada pengalaman lain, misalnya ketika saya jatuh sakit dan itu terjadi saat asuransi baru berumur setahun, saya terpaksa harus memakai uang sendiri untuk biasa pengobatannya. abdul azis paradi

Gerakan Hemat Air

PENGGUNAAN air untuk keperluan rumah tangga yang tak terkendali kian membuat sumbernya terkuras secara perlahan. Salah satu pemakaian air yang cukup banyak adalah untuk mencuci. Sebuah data menyebutkan penggunaan air bagi kegiatan manusia seperti mandi/WC rata-rata menghabiskan 39,46 liter/orang/hari. Disusul mencuci pakaian rata-rata 18,90 liter/orang/hari.
Jumlah itu dapat bertambah akibat keperluan mencuci yang tak cukup hanya satu bilasan. Jika tiap keluarga membilas tiga kali maka dibutuhkan 10,75 liter/kg pakaian. Bila saja jumlah keluarga di Indonesia adalah 52.575.000 keluarga, maka secara kumulatif jumlah air yang dibutuhkan selama satu tahun mencapai 1,17 miliar m3.
Melihat hal tersebut kita semua mulai khawatir makin sulitnya air. Bahkan artis Rina Gunawan pun merasa prihatin. Untuk itu belum lama ini istri Teddy Syah ini membaca ikrar penghematan air bersama dengan ibu-ibu PKK Jakarta.
Ya, mulai saat ini kita semua harus berhemat dalam penggunaan air di rumah tangga termasuk mencuci pakaian. Di rumah kalau ada sisa pembilasan jangan dibuang percuma. Air sisa bisa dimanfaatkan untuk cuci mobil atau menyiram jalanan. Yang penting tidak terbuang sia-sia. Dalam ikrarnya disebutkan antara lain penghematan air dengan cara mencuci sekali bilas, pendayagunaan air sebaik-baiknya, dan pelestarian untuk terus menjaga air di masa mendatang.

Rosi Sugiarto
rosi.sugiarto@pajak.go.id

Kurban dan Korban

SEBENTAR lagi sebagian dari kita akan merayakan hari raya kurban (qurban). Tradisi mempersembahkan hewan kurban yang sudah ada sejak jaman nabi Ibrahim. `Kurban' dan `Korban' secara penulisan ,sepintas hampir sama. Di dalam prosesnyapun hampir sama, di balik kedua kata tersebut ada unsur objek penderita. Tapi ada juga bedanya, `kurban' yang satu memakai huruf `u' (huruf `o' yang terbuka) dan `korban' yang satunya 
lagi memakai huruf `o' (huruf `u' yang tertutup). Dan menurut saya, kedua kata tersebut bukan hanya beda huruf saja. Kedua kata tersebut mempunyai makna yang juga berbeda.
Kurban dimaksudkan sebagai ucapan syukur kepada Allah yang telah meluputkan kita dari hukuman yang seharusnya kita tanggung. Kurban juga dimaksudkannya supaya berkah yang telah kita terima, juga menjadi berkah untuk orang lain di sekitar kita. Semakin banyak kita menerima berkah, semakin besar kurban yang kita persembahkan. 
Kurban ditulis dengan huruf `u' yang terbuka, karena dilakukan dengan hati nurani yang terbuka juga.
Sebaliknya, korban terjadi karena pelakunya menutup nuraninya. Pelakunya hanya memikirkan kepentingan dirinya sendiri atau kelompoknya, tak perduli dengan orang lain. Ia tak perduli sang korban menderita. Apalagi bermaksud untuk mendatangkan berkah bagi sesamanya.
Semoga kita tidak membuat korban-korban di sekitar kita bertambah banyak. Sebaliknya kita dapat menjadi berkat bagi sesama; bagi masyarakat sekitar kita dan bagi bangsa ini.
Selamat Idul Adha. 

Dave Chyn 
dave_chyn@yahoo.com

Rabu, 03 Desember 2008

Aksi Jemput Bola

ADA  gerakan baru dari kami. Sejak kemarin, kami melakukan aksi jemput bola menerima keluhan masyarakat tentang public service dan public protection. Kami menugaskan 10 orang ke lapangan dan menyebar tiga mobil ‘Citizen Journalism’, masing-masing di RSCM &Taman Surapati, RS Tarakan & Taman Lembang, dan RS Jakarta & Taman Menteng.
Reaksi masyarakat cukup positif. Salah satunya datang dari Ahmad Sukron yang beralamat di Jl Asem Baris, Tebet, Jakarta Selatan. Ahmad Sukron yang berprofesi sebagai asisten desain, menilai aksi jemput bola ini sangat bagus. “Kalau cuma layanan SMS, saya malas mengirim keluhan karena buang-buang pulsa,” komentar Ahmad Sukron.
Tanggapan semacam ini tentu sangat memompa semangat dan energi kami. Aksi jemput bola ini akan kami lakukan setiap hari. 

PHK Kian Mengancam

PHK kini menjadi momok para pekerja. Apalagi berbagai media terus-menerus memberitakan gelombang PHK di belahan dunia lain. Perusahaan-perusahaan besar yang kelihatannya kokoh saja, kenyataannya juga diterjang gelombang PHK. Misalnya, General Motor dan City Group. Inilah yang dikhawatirkan pekerja. Jangan-jangan perusahaannya yang terhitung gurem akan sangat mudah dilibas PHK.
PHK merupakan sebuah kecemasan. Orang pada level kebanyakan memang harus kerja. Siapa pun sepakat, kerja merupakan tuntutan agar manusia bisa hidup. Tak beda dengan hewan, manusia harus memenuhi kebutuhan dasariah demi kelangsungan hidup. Atas dasar inilah para filsuf menyebut manusia tingkat ini sebagai animal laborans (binatang yang bekerja).
Level animal laborans ini hanya menghasilkan upah yang habis dikonsumsi. Hal terpenting bagi level ini adalah proses kerja berjalan lancar dan mendapatkan jatah untuk dikonsumsi. Mereka sekadar bekerja untuk kebutuhan sehari-hari. Jangan bicara profesionalisme, karena masih memprihatinkan. Jangan pula berharap bakal tumbuh manusia kritis dari animal laborans ini. Sindrom yang menyertai animal laborans ini di antaranya kekerasan.
Oleh karena itu, lantaran berurusan dengan perut maka ketika merebak kabar PHK, mereka pun cemas. Mereka tidak disertai kekritisan, tapi diakrabi kekerasan. Lantas bisa saja muncul amuk jika sumber pekerjaannya diputus.
Patut diantisipasi juga, bayang-bayang PHK itu bisa memicu emosi. Kita bisa melihat kemarahan merupakan struktur dasar hasrat manusia. Oleh karena itulah, perusahaan harus berpikir panjang sebelum menghilangkan pekerjaan seseorang. Alih-alih demi efisiensi, rasanya melakukan PHK juga akan membuat pekerja bereaksi, dan umumnya kekerasan menjadi salah satu bentuk ekspresi mereka. 

Rosi Sugiarto
Pondok TK Al Firdaus BSB Jatisari, Mijen, Semarang
rosi.sugiarto@pajak.go.id

Senin, 01 Desember 2008

Kebenaran dan Kebiasaan

KEBENARAN dan kebiasaan adalah dua kata yang berbeda arti; yang tidak bersangkut paut satu dengan lainnya dan bahkan dalam kehidupan sehari-hari pun jarang sekali saling disangkut-pautkan. Kata 'kebenaran' yang berasal dari kata dasar 'benar'. Saya memahami kata 'benar' sebagai: setuju(concurring) , sejati/tulus ( genuine), setia (loyal/ faithful) , tidak salah(dalam matematika), sah (legitimate). Mungkin bisa ditambahkan juga yang lainnya.
Kata kedua adalah 'kebiasaan'. Kebiasaan adalah (ini juga menurut pemahaman saya) keadaan atau sikap yang dilakukan berulang-ulang dengan pola yang sama, tanpa sadar dan mungkin sudah berlangsung dalam waktu yang cukup lama. Misalkan: kita baru dapat tidur setelah lewat tengah malam; atau sehabis makan siang bila tidak merokok maka mulut akan terasa masam; atau menggaruk kepala tanpa sadar saat kita menyadari kesalahan kita; atau kita tanpa sadar mengatakan "aduh, lupa !", justru saat kita ingat (bahwa ada sesuatu yang terlupa), dan seterusnya.
'Kebiasaan' terjadi didalam hidup kita dan menjadi bagian dari hidup kita. Baik itu kebiasaan yang 'positif', misalkan: selalu hidup bersyukur/berterima kasih, hidup sehat, selalu bersikap hormat/menghargai terhadap sesama manusia, bekerja dengan sepenuh hati dan sebagainya. 
Maupun kebiasaan yang 'negatif' seperti: kebiasaan membuang sampah sembarangan, kebiasaan menyerobot antrean/lampu lalin, kebiasaan menerobos jalur khusus, kebiasaan berlaku sembrono/membahayakan dan masih banyak contoh lainnya. Kebiasaan- kebiasaan 'negatif' sering merupakan kebiasaan yang jelas-jelas tidak dapat benarkan dan diterima oleh banyak orang. 
Tapi ada juga yang lebih memprihatinkan, adalah adanya kebiasaan (bisa yang 'negatif' atau tidak) yang kadang sengaja dipakai untuk membenarkan suatu tindakan yang tidak 'benar'. Beberapa contoh dari kebiasaan tersebut: supaya urusan berjalan lancar kita harus 
memberikan uang pelicin (karena biasanya begitu); supaya lebih cepat kita harus menyerobot jalur khusus (karena biasanya begitu); supaya lebih laku, kita lebih suka membuka lapak/berjualan di pedestrian (karena biasanya begitu), dan sebagainya. Bahkan ketika waktu masuk sekolah direncanakan berubah mulai dari jam 6.30, banyak yang menentangnya karena 'biasa'-nya masuk jam 7.00 saja banyak yang terlambat. 
Terlambat itu 'biasa', semrawut itu 'biasa', menyerobot itu 'biasa', korupsi itu 'biasa' dan seterusnya.
Banyaknya ‘kebiasaan’ dan seringnya 'kebiasaan' sering menutupi kebenaran itu sendiri. Kita sering sulit membedakan lagi sesuatu yang 'tidak benar' dengan sesuatu yang 'benar'. Semuanya terlihat 'biasa'. Dan yang lebih parah lagi 'kebiasaan' sering terlihat sebagai kebenaran dan yang tidak 'biasa' malah dianggap sebagai yang tidak normal/tidak benar.
Saat ini, saya berpikir, bahwa kini saatnya kita mulai berhenti membenarkan suatu kebiasaan (yang mungkin tidak benar) dan hanya mulai mem'biasa'kan yang benar.


Dave Chyn
dave_chyn@yahoo.com

Berdayakan 7 Daya Dukung Negara

MENJELANG Hari Bela Negara 19 Desember 2008, secara kontekstual kita dihadapkan kepada ancaman seperti terjadinya proyeksi dampak krisis 2009 yakni rakyat miskin 45 juta [LP3S, Suara Pembaruan 24 Nopember 2008], yang dapat mengarah kepada kehidupan HanKamNas melengah, ancaman terjadinya kiamat tahun 2012 akibat ledakan besar di atmosfer matahari (Coronal Mass Ejection) berdaya setara 66 juta kali ledakan bom atom Hiroshima yang dapat mengarah kepada bahaya bagi keselamatan umat [Kompas 26 Nopember 2008], maka sebagai antisipasi antara lain perlu ditekadkan pemberdayaan nasional meliputi pembinaan, penggalangan dan pengerahan di semua komponen masyarakat, bangsa dan negara terhadap 7 (tujuh) daya dukung Bela Negara yakni (1) Sumberdaya Manusia, (2) Sumberdaya Alam, (3) Sumberdaya Buatan, (4) Sumberdaya Sarana & Prasarana, (5) Sumberdaya Kearifan Lokal Yang Menasional, (6) Sumberdaya Tiga Pilar Kenegarawanan, (7) Sumberdaya Lima Pilar Bela Negara. 
Sumberdaya Alam meliputi semua potensi yang terkandung dalam bumi, air dan dirgantara yang dalam wujud asalnya dapat didayagunakan untuk kepentingan pertahanan negara. Sumberdaya Buatan mencakupi semua sumber daya alam yang telah ditingkatkan dayagunanya untuk kepentingan pertahanan negara. 
Sumberdaya Sarana dan Prasarana melingkupi hasil budi daya manusia yang dapat digunakan sebagai alat penunjang untuk kepentingan pertahanan negara dalam rangka mendukung kepentingan nasional. Sumberdaya Kearifan Lokal Yang Menasional adalah Tatanilai Kearifan Lokal yang dapat berkemampuan merekatkan Persatuan dan Kesatuan bangsa. 
Sumberdaya Tiga Pilar Kenegarawanan yaitu Tiga Pilar Kebangsaan (9 Pusaka Bangsa Indonesia, 7 Strategi Ketahanan Bangsa, Kepemimpinan Kebangsaan 45), Tiga Pilar Kepemimpinan Amanah (Pemimpin Umat atau Khalifah, Akhlak Mulia, Cinta Kasih Sayang), Tiga Pilar Kejuangan TRISAKTI (Politik Berdaulat, Ekonomi Berdikari, Budaya Berkepribadian). Sumberdaya Lima Pilar Bela Negara yakni Tiga Pilar Tataran Kiprah Bela Negara, Tiga Pilar Cinta Tanah Air, Tiga Pilar Kesadaran Berbangsa dan Bernegara, Tiga Pilar Keyakinan bahwa Pancasila sebagai Ideologi Negara, Tiga Pilar Kerelaan Berkorban bagi Bangsa dan Negara. 
Keberdayaan 7 daya dukung tersebut diatas diyakini akan turut mengkondisi nilai tambah bagi Stimulus Penyelamatan Ekonomi Rp 120 triliun [Suara Pembaruan, 25 November 2008] sekaligus memungkinkan upaya-upaya pemberdayaan pertanian lokal guna pengurangan jumlah impor 7 komoditas seperti kedelai (1,2 juta ton), gandum (5 juta ton), kacang tanah (800 ribu ton), kacang hijau (300 ribu ton), gaplek (900 ribu ton), sapi (600 ribu ekor), susu (964 ribu ton). 
Pengganti Kedelai seperti Karabenguk yang mampu tumbuh produktif di lahan kering dan bisa jadi tanaman tumpang sari [Kompas 26 November 2008] dan "Mocaf" Subsitusi Gandum [Suara Pembaruan 29 November 2008] adalah sungguh strategik dan perlu segera kiprah pemberdayaan masyarakat sekaligus gerakan rakyat semesta agar ekologi tidak gersang. 


Pandji R Hadinoto 
politisi45@yahoo.com 

Hari AIDS Sedunia

Kemarin, kita semua memperingati Hari AIDS Sedunia. Sebagai wujud keprihatinan kami terhadap bertambahnya jumlah penderita, hari ini kami menurunkan tulisan mengenai HIV/AIDS. Selain itu, kami juga menurunkan tulisan program “Tanam dan Pelihara” di Ancol, karena kami mendukung program Go Green. 
Pada dasarnya, kami selalu merayakan hari-hari besar dengan cara kami. 
Dalam kesempatan ini, kami juga mengucapkan terimakasih atas masukan dari pembaca asal Lampung yang dikirimkan lewat SMS. Intinya, kami diminta untuk menulis kiat membangun hasil bumi yang melimpah. Terima kasih atas segala perhatian dan masukannya. Tentu saja, segala masukan dari pembaca akan kami tindaklanjuti setelah diputuskan dalam rapat redaksi.  

Minggu, 30 November 2008

Rp 45 Triliun Berdayakan Rakyat Miskin

BERITA DetikFinance (Kamis 20 Nopember 2008) bahwa ICW (Indonesian Corruption Watch) temukan data hasil penjualan BBM 2007 dan 2008 berjumlah Rp45 triliun tidak disetor ke negara. Maka kalau benar demikian, sudah seharusnya jumlah itu lebih dari pada cukup untuk program pemberdayaan rakyat miskin yang diduga berjumlah 45 juta pada tahun 2009 oleh LP3ES (Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial), akibat dampak krisis (Suara Pembaruan, 24 November 2008), agar supaya bernilai tambah bagi sumber daya ekonomi kesejahteraan rakyat (EkoKesRa) sebagaimana amanat konstitusi, Pasal-33 UUD45. 
Untuk itulah, kepada pemerintah, di tengah terpaan badai ketidakpastian ekor resesi ekonomi dunia, dihimbau kiranya dapat segera berikan konfirmasi kebenaran indikasi ICW tersebut guna pemenuhan bagi 7 (Tujuh) Strategi Ketahanan Bangsa Indonesia yakni (1) Keagamaan Tidak Rawan, (2) Ideologi Tidak Retak, (3) Sosial Politik Tidak Resah, (4) Sosial Ekonomi Tidak Ganas, (5) Sosial Budaya Tidak Pudar, (6) HanKamNas Tidak Lengah, (7) Ekologi (Lingkungan) Tidak Gersang. 
Saatnyalah kini unjuk kerja Kepemimpinan Nasional menuju jiwa, semangat dan nilai-nilai kenegarawanan yang seyogjanya lebih mengemuka, misalnya dengan lebih menghayati 18 (delapan belas) prinsip-prinsip Kepemimpinan Nusantara yang telah terbukti memberikan kekuatan penyatuan Nusantara di abad 14 Masehi yakni Wijaya, Mantriwira, Natangguan, Saktya Bakti Nagara, Wagmiwak, Wicaksameng Naya, Sarjawa Upasama, Dirosaha, Tan Satresna, Masihi Samasta Buwana, Sih Samasta Buwana, Negara Gineng Pratijna, Dibyacita, Sumantri, Nayaken Musuh, Ambek Parama Arta, Waspada Purwa Arta, Prasaja. 
Sehingga dengan demikian Keadilan bagi 45 Juta Rakyat Miskin itu kelak dapat lebih menjamin eksistensi Persatuan dan Kesatuan Bangsa. 


Pandji R. Hadinoto 
www.jakarta45.wordpress.com 

Flu Burung dan Kelanggengan ala Orba

MUNGKIN flu burung sekarang hampir menjadi `mantan', tidak didengar lagi kabar hebohnya. Masyarakat sudah tenang dan tidak takut lagi makan ayam. Media-media massa tidak lagi mengabarkan perkembangannya secara bergelora macam semangat mahasiswa menuntut mundurnya Soeharto pada Reformasi 1998. 
Namun apakah flu burung sudah benar-benar menjadi `mantan'? Tidak juga, sebab sampai saat ini penelitian tentang keberadaannya masih dilakukan. Berbagai upaya penanggulangan dan penanganan vaksinasi, produksi vaksin, peningkatan biosecurity, peredaran dan bisnis vaksin dan obat-obatan pendukung, semua masih dilakukan, bahkan sistem penanggulangan Avian Influenza atau AI atau Flu Burung ini menjadi bagian integral dalam sistem kesehatan hewan baik di peternakan, daerah, nasional, bahkan internasional. 
Kepedulian yang terus menerus dilakukan laksana `pernikahan mantan', mantan berita menghebohkan yang kini tak lagi. Mantan peristiwa-peristiwa menakutkan yang tak lagi. Mantan carut marut dan konflik yang tidak lagi. Pernikanan mantan adalah pernikahan dalam tatanan baru. 
Namun, kita tak ingin terjebak pada retorika Orde Baru yang mengaku sebagai tatanan perikehidupan masyarakat berbangsa dan bernegara berlandaskan pelaksanaan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen hanya untuk melegalkan dan melanggengkan kekuasaan setidak selama 32 tahun, yang ternyata sampai kini masih berlanjut karena tidak dibasmi seakar-akarnya seperti yang dilakukan Soeharto dalam membasmi PKI seakar-akarnya tanpa sisa sama sekali bahkan 'akar nafas' sekali pun. 
Dalam konteks flu burung, semua peristiwa gempar di media dan masyarakat bukanlah hal yang ingin kita langgengkan. Namun demikian juga ketika semua kelihatan tenang, bukan berarti dalam sistem pemerintahan, pengusaha dan lain-lain terkait flu burung kita akan
melanggengkan konspirasi-konspirasi di dalamnya. 
Contoh aktual, kita tak ingin kasus korupsi pengadaan Rapid Test Virus AI di departemen
terjadi lagi, apalagi bila dana yang ditilep sehingga menggagalkan penerapan Rapid Test adalah untuk penetingan partai yang wakilnya ada di pemerintahan. 


Yonathan Rahardjo
yonathanrahardjo@gmail.com

Jumat, 28 November 2008

Teliti Sebelum Membeli

SEPERTINYA judul di atas sudah sering kita dengar. Artikel ini terinspirasi dari kasus Mbak Meidy dan JPC. 
Aku pernah punya pengalaman mencari pengadaan untuk di kantorku. Barang-barang yang harus aku cari termasuk alat-alat elektronik dan gadget seperti PABX, handphone, notebook, kamera, camcorder, MP3, MP4, sampai AC.
Kesulitan utama adalah mencari barang yang sesuai. Sesuai kebutuhan, kegunaan, dan ekonomis. Hal lain yang perlu aku perhatikan yaitu karena milik kantor (dipakai banyak orang), harus yang tahan banting dan mudah dicari sparepart-nya jika ada kerusakan.
Hal pertama yang aku lakukan adalah membandingkan spesifikasi yang ada. Kemudian, merek dan baru harga. Ternyata, yang namanya barang elektronik dan gadget banyak sekali rupa layanan purnajualnya. Ada resmi dealer, ada black market (BM) alias ‘selundupan resmi’, dan barang benar-benar selundupan yang tidak ketahuan ujung pangkalnya (as is) alias ‘beli putus’. 
Contoh paling mudah adalah handphone. Jika kita tidak membeli langsung dari agen resmi atau dealer, para penjual tanpa ditutupi lagi akan menanyakan, “Mau garansi resmi atau garansi toko?” Artinya, kalau garansi toko, barang adalah BM dan tidak ada jaminan resmi dealer. Harga pasti lebih murah, kualitas... sebenarnya sama. Yang sulit adalah kalau ada kerusakan pabrik, perbaikan akan mengeluarkan biaya.
Lain halnya dengan notebook yang juga semakin menjamur. Mulai dari toko-toko resmi hingga kombinasi resmi plus pemasok notebook BM sudah terlihat. Aku masih berani beli BM untuk notebook karena ada international warranty. Walaupun demikian, hati-hati dengan merek tertentu yang tidak punya layanan purnajual di Indonesia. Misalnya, Dell yang di Singapura terkenal nomor satu layananan purna jualnya. Sedangkan di Indonesia, baru ada sejak pameran komputer terakhir kemarin. Jadi, kalau punya masalah dengan notebook Dell, kemungkinan besar barang akan diterbangkan ke Singapura. 
Hal lain yang perlu diperhatikan, terkadang pemegang dealer resminya berganti-ganti. Sekarang dipegang PT ‘A', tahu-tahu tak berapa lama kemudian sudah dipegang PT ‘B'. Hal tersebut mungkin saja terjadi. Sulitnya kalau PT ‘B' tidak mau menanggung barang-barang yang dikeluarkan PT ‘A' dengan alasan-alasan tertentu.
Aku sendiri pernah mengalami hal di atas ketika membeli sebuah gadget. Untung (orang Indonesia, untung terus) akhirnya PT ‘A' mau bertanggung jawab. Sebelumnya, tidak terbayang olehku PT ‘A' akan melepaskan ke-dealer-annya karena PT ‘A' ini sudah mempunyai nama.
Dari pengalaman-pengalamanku, kuncinya, keterbukaan penjual terhadap pembeli. Kalau semua diutarakan dengan jelas, sehingga pembeli juga bisa memikirkan risiko yang akan dihadapi dan memilih sesuai kenyamanan, maka hal-hal yang tidak diinginkan bisa dihindari.
Sekarang, kecenderunganku membeli barang hanya ada dua kombinasi, yaitu garansi resmi dealer atau black market dengan internasional warranty. Barang-barang beli putus hampir tidak pernah kupilih, kecuali risikonya kecil sekali.
Jadi, hati-hati sebelum membeli patut selalu diterapkan, tidak peduli kita membeli di mana.
Bagaimana dengan pengalaman teman-teman? Ada yang unik atau perlu kita ketahui? Mohon juga dikoreksi kalau pengertian-pengertianku di atas ada yang salah. Maklum, belum ada standar bakunya.

Aprilia 
aprilia25@gmail.com

Sekolah Alternatif, Kembali ke Alam

KUALITAS pendidikan tidak selalu berjalan linier dengan fasilitas yang memadai. Sekolah alam buktinya. Pendidikan bermutu bisa didapat dari alam. Alam adalah sumber pengetahuan yang luas dan berlimpah. Beberapa penemu terkenal di dunia mampu menghasilkan karya-karya fenomenal lantaran memanfaatkan alam. Lihat saja Isaac Newton yang berhasil menemukan ide tentang teori gravitasi hanya karena duduk di bawah pohon apel yang buahnya terjatuh di dekatnya.
Berkaca pada hal tersebut, kini banyak sekolah mempunyai konsep kembali ke alam dan memanfaatkan alam sebagai bagian dari metode pembelajaran. Begitu memasuki sekolah alam, jangan heran karena Anda tidak akan menemukan bangunan permanen layaknya gedung sekolah pada umumnya. 
Sebagai gantinya, berbagai ruangan yang ada seperti ruang guru dan ruang kepala sekolah hanya menempati rumah kayu. Tidak ada bangku atau meja di ruangan-ruangan tersebut. Ruang kelasnya juga tak kalah natural. Alih-alih belajar di ruang berdinding dan berkaca, para murid malah semakin menyatu dengan alam dalam saung yang berfungsi sebagai kelas. 
Sama dengan ruangan lain, di kelas juga tidak ada bangku dan meja. Semua serba lesehan. Untuk keperluan menulis, setiap anak memiliki meja lipat sendiri. Perpustakaan juga sama. Di sini, berbagai buku disusun dengan rapi di rak atau lemari kaca. Para siswa yang ingin membaca buku di perpustakaan harus melepas alas kaki dan duduk dengan manis di sehelai tikar rotan.
Sekolah alam bukan hanya mencoba mengajak murid lebih dekat dengan alam. Lebih dari itu, sekolah yang turut mensukseskan program wajib belajar sembilan tahun ini berusaha memanfaatkan alam sebagai media murah untuk mentransfer ilmu kepada para murid secara optimal. Alam memberi banyak inspirasi dan mengajak berpikir realistis. Mereka percaya, semakin dekat anak dengan alam, ia akan tumbuh menjadi seorang yang bijaksana. Di sekolah ini, mereka menggunakan alam sebagai fasilitas belajar.
Selama ini, orang sering salah kaprah dalam memaknai kualitas pendidikan. Banyak orang menganggap kualitas pendidikan berjalan linier dengan fasilitas yang memadai. Padahal, pendapat tersebut tidak selamanya benar. 

Rosi Sugiarto
rosi.sugiarto@pajak.go.id

Kamis, 27 November 2008

Tak Kenal Maka Tak Sayang

Dengan semangat kebersamaan dan persahabatan, kami mengajak Anda semua untuk aktif berpartisipasi dengan mengirimkan hasil karya tulisan dan fotografi Anda ke Redaksi. Hasil tulisan Anda semua akan kami sebar luaskan melalui blog ke http://suarakitamerdeka.blogspot.com dan milis suarakitamerdeka@yahoogroups.com.
Pembuatan blog dan milis ini bertujuan semakin meningkatkan keakraban di antara kita. Juga, agar menjadi wadah komunikasi yang efektif dan tentunya membuat kita bisa saling mengenal baik. Bukankah ada pepatah mengatakan, “Tak kenal maka tak sayang?”

Bahasa Campur Aduk yang Terlembaga

BELUM lama ini, saya diundang Buyunk Rizal—rekan saya waktu di majalah Vista—yang kini mengelola rumah makan Manado bernama Matahari Domus Resto di Jalan Veteran I/30, Jakarta Pusat.
Dengan semangat, saya berangkat dari rumah. Penuh harapan menyantap masakan Manado, menu yang langka buat saya. Yang sudah saya kenal baru bubur Manado, ketika saya mengikuti Jenderal Tri Sutrisno—waktu masih menjabat sebagai Panglima ABRI—mengadakan kunjungan di Sulawesi Utara.
Ternyata, Buyunk Rizal tak sekadar menjamu undangannya dengan bubur Manado. Sore itu, ditampilkan sosok budayawan yang cukup terkenal Yapi Tambayong dalam acara peluncuran buku Kamus Bahasa & Budaya Manado. Dia adalah seorang wartawan senior, penyair, dan budayawan yang biasa pula berkarya dengan nama Remy Sylado. 
Buku Kamus Bahasa & Budaya Manado yang disusun Yapi Tambayong setebal 389 halaman dengan ukuran 14x21 cm ini diterbitkan PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta (2008). 
Sebagai sebuah edisi kamus, format dan penampilannya tidak terlalu mencolok. Dengan perwajahan sederhana, berwarna merah marun dan ungu tua, kelihatan sebagai buku bacaan populer biasa. Dibanding penampilan kamus-kamus yang sudah beredar, misalnya Kamus Inggris-Indonesia yang disusun John M Echols dan Hassan Shadily (juga terbitan PT Gramedia Jakarta)—yang tampil lebih istimewa dengan hard cover, Kamus Bahasa & Budaya Manado bisa disebut agak ketinggalan. 
Tetapi, ketika membuka, kita dikejutkan oleh begitu padat dan menariknya isi Kamus Bahasa & Budaya Manado. Banyak hal dan pengetahuan baru yang dapat dipetik, istimewa sekali bagi warga non-Manado. Yapi Tambayong pernah memperoleh Penghargaan MURI untuk karya-karya puisinya, Penghargaan Sastra Khatulistiwa untuk karya novelnya, Penghargaan FFB untuk aktingnya di film, Penghargaan Anugerah Indonesia untuk karya-karya teater musik, Penghargaan Khusus dari Istana Wakil Presiden sebagai satu-satunya kritikus musik, serta Satya Lencana Kebudayaan dari negara karena popularitasnya di bidang kesenian kontemporer. 
Dalam penyusunan Kamus Bahasa & Budaya Manado yang diakuinya disusun dan disiapkan selama tiga bulan, dia sangat teliti dan telaten. Ia juga dengan cerdas memberi nuansa dan penjelasan setiap makna kata maupun kalimat dengan kelengkapan contoh, arti, dan filosofi tiap nama fam yang hidup di Manado.
Terungkap betapa unik dan peliknya bahasa Minahasa atau dikenal juga sebagai bahasa Tontemboan, yakni bahasa terbesar di seluruh jazirah utara Sulawesi. Oleh penyusun, disebut pula sebagai bahasa campur aduk. Dicontohkan, kata mange (pergi) dalam perbedaan-perbedaannya menurut waktu yang sedang berlangsung, yang sudah berlangsung, yang belum berlangsung, atau yang akan berlangsung.
Mange kata dasar ‘pergi’. Ma’ange ‘sedang melakukan tindakan pergi’. Mangem ‘sudah melakukan tindakan pergi’. Mangepe ‘akan melakukan tindakan pergi’. Mangeoka ‘berniat melakukan tindakan pergi’. Manangeo ‘telah melakukan tindakan pergi’.
Dijelaskan pula pada bab lain, seperti peralihan lafal sebagai bahasa yang adaptatif dari derivasi bahasa Melayu yang bertahan dalam bahasa Manado, dicirikan dengan perubahan-perubahan lafal yang cenderung tetap. Artinya, berlaku khas pada sejumlah besar kata. Salah satu ciri adalah kata-kata bahasa Melayu dengan huruf akhir ‘t’, hampir seluruhnya dihilangkan atau tidak diucapkan. Misal, dapat diucapkan dapa, empat diucapkan ampa, gigit diucapkan gigi, ingat diucapkan inga, dan lain-lain. 
Yapi Tambayong menuntun kita mengenal bahasa Manado dengan membuka ‘rahasia’ yang selama ini menyelimuti bahasa di daerah itu. Barangkali salah satu, malah mungkin satu-satunya, bahasa di Indonesia yang sangat longgar membuka diri terhadap melintasnya bahasa-bahasa Eropa, Portugis, Spanyol, Belanda, Prancis, Inggris, Jerman, yang kemudian masuk menjadi bahasa campur aduk yang terlembaga di Manado (bahasa Manado). 


SK Martha
calproprint@yahoo.com 



Rabu, 26 November 2008

Antropologi Kuliner ‘Go Green’

POLA makan manusia, menurut tinjauan antropologi, adalah salah satu kompleks budaya yang penting. Oleh masyarakat, sering dipandang sebagai suatu hal yang memenuhi banyak fungsi dan dipengaruhi faktor-faktor sosial budaya. Di luar fungsi aslinya sebagai sumber-sumber zat gizi, makanan mendapat klasifikasi anggapan dalam masyarakat sebagai sesuatu yang memiliki nilai magis, nilai panas (hot), nilai dingin (cold), sosial, status, gengsi, dan sebagainya. 
Hal ini menjadi penyebab ditemuinya perilaku terhadap makanan tertentu yang sebenarnya bernilai gizi tinggi dan sangat penting bagi keperluan tubuh, namun tidak dikonsumsi sehubungan adanya pantangan. Sebaliknya, makanan yang bernilai gizi rendah malah dianjurkan untuk dikonsumsi sehubungan adanya persepsi tertentu terhadap makanan tersebut. 
Dalam pengertian itulah, telah dilakukan kajian antropologi kuliner go green di Denpasar, Bali, sebagai rujukan bagi kesehatan masyarakat kota sekaligus tujuan wisata yang berselera mancanegara, namun berskala ekonomi kesejahteraan rakyat lokal.
Kehadiran beberapa rumah makan berciri go green di Denpasar ditandai oleh Depot Rahayu (Jl Wahidin 27), Bodhi Chumani Vegetarian (Jl Cok Agung Tresna 108), Depot Kasih Vegetarian (Jl Sidakarya 139), Cai Ken Siang (Jl Teuku Umar Barat 168), dan yang lainnya. Semuanya cerminan ekonomi kesejahteraan rakyat.
Bagaimanapun, strategi go green generation (3G) yang bertumpu pada antropologi kuliner go green, selain kelak mampu menghela ekonomi kesejahteraan rakyat lokal, juga berpotensi menjaga keseimbangan ekologis agar tidak gersang, mengingat beberapa data seperti (1) ternyata dengan makan 1 pon daging sapi, kita sudah konsumsi 2.500-5.000 galon air, sehingga lebih baik kita pakai buat ngisi kolam renang, bukan? [http://oak.cats.ohi-au.edu/-eh300401/info_pub.htm], (2) dengan memakan telur setiap hari, ternyata para wanita telah meningkatkan persentase terkena kanker payudara 300% [http://home.netcom.com/-axlep-lus/stuff/veggie/vtrivia.html], (3) Jumlah CO2 seekor sapi sama dengan jumlah CO2 yang dikeluarkan kendaraan yang bepergian 70 ribu kilometer, (4) sektor peternakan telah menyumbang 9% racun karbon dioksida, 65% nitro oksida, dan 37% gas metana yang dihasilkan karena ulah manusia. 
Pemberdayaan antropologi go green—khususnya di bidang kuliner—antara lain bermanfaat bagi promosi dan nilai tambah tujuan wisata, baik kota maupun resor, dan diyakini dapat menjadi salah satu solusi yang menjanjikan peningkatan lapangan kerja dan pendapatan rumah tangga. 

Arya Ramaniya Numitta SSos
antrogogreen@yahoo.com 

Dari Kita Untuk Kita

Detik-detik terakhir menjelang deadline Section B Merdeka, Mangun Wijaya—mahasiwa UPI Purwakarta—mengirimkan SMS ke redaksi. Intinya, Mangun Wijaya berminat menjadi koresponden harian ini. Beberapa hari sebelumnya, pertanyaan dan harapan senada datang dari Djody Hariandja yang beralamat di Karawang, Jawa Barat. Bahkan, Djody datang bersama tiga temannya ke kantor redaksi di Jl Ampera Raya 6, Kemang. 
Kami mengucapkan terima kasih atas niat baik ini. Perlu kami sampaikan bahwa harian Merdeka menampung hasil reportase warga dari mana pun asalnya dan apa pun pendidikannya. Karena itu, bagi para pembaca yang berminat dalam bidang reportase, penulisan, ataupun fotografi, kami persilakan mengirimkan hasil karya ke redaksi. Sebab, halaman ini dari kita dan untuk kita.

Terima Kasih Pak Taufik

Tak terasa, sudah 23 hari kami menemani Anda semua. Kami ucapkan terima kasih atas segala perhatian yang telah Anda berikan kepada harian ini. Beragam tanggapan dan masukan kami terima. Itu semua menjadi inspirasi serta memberikan semangat tersendiri bagi kami untuk terus maju.
Pada Senin (24/11) lalu, seorang pembaca asal Ciputat, Tangerang, bernama Bapak Taufik menghubungi media ini. Beliau tertarik dengan rubrik “Inspirasi” dan memberikan usulan agar kami mewawancarai DR AS Panji Gumilang, Pimpinan Pondok Pesantren Al Zaitun, Indramayu. Bapak Taufik sampai rela mencarikan nomor telepon pondok pesantren tersebut untuk kami. 

Sekali lagi, terima kasih atas perhatian Bapak Taufik. Semoga, pembaca lain bisa melakukan hal yang sama.

Salam, Merdeka!

Pengikut

Mengenai Saya

Jakarta, DKI, Indonesia
Blog ini untuk mereka yang BERPIKIR BERSIKAP BERSUARA MERDEKA
Powered By Blogger

Tim Merdeka