MASALAH keterlambatan penerbangan (delay), memang, seringkali membuat para penumpang pesawat terbang mengalami kekecewaan. “Yang harus sama-sama kita ketahui,” tegas Edward Sirait yang Direktur Umum Lion Air, “Tidak ada maskapai penerbangan yang menginginkan terjadinya masalah keterlambatan. Apalagi ada anggapan, hal tersebut dilakukan karena unsur kesengajaan.”
Kepada Merdeka di Jakarta, Senin (5/1), ia menambahkan, “Tidak benar jika kami sengaja melakukannya. Saya yakin semua maskapai pernah mengalami delay. Tapi siapa yang menginginkannya? Kami bisa mengalami kerugian sampai miliaran rupiah kok. Alasannya, bila penerbangan ditunda mereka pun harus membayar sewa parkir lebih mahal, misalnya, karena kursnya menggunakan US dolar.
Menurut Edward, selama ini pihak Lion Air mengalami keterlambatan karena perihal teknis seperti mesin rusak atau kerusakan landasan pacu (runway). Begitu juga dengan kondisi cuaca (angin kencang, banjir, hujan dsb). Selain itu, tambahnya, “Barangkali (di bandara tersebut) ada kedatangan tamu istimewa seperti presiden.”
“Kami selama ini coba upayakan antisipasi. Kami sudah menyiapkan dua pesawat cadangan jenis MD (Mcdonnel Douglas 82), jika dibutuhkan. Tapi tidak serta merta masalah dapat teratasi. Penumpang pun bisa pilih mode transportasi yang dimaui,” katanya. Ditambahkan, kapasitas pesawat tersebut tidak sama dengan Boeing 737 - 900ER. Jika Boeing 737-900 ER bisa mencapai 189 kursi, MD 82 maksimal mencapai 172 kursi.
Menyinggung Peraturan Menhub No: KM 25/2008 tentang Penyelenggaraan Angkutan Udara, yang menyebutkan adanya kompensasi terkait keterlambatan yang meliputi pemberian makanan/minuman ringan, makan siang/malam, memindahkan penumpang ke penerbangan berikutnya dan penumpang pun diberi akomodasi lain bila keterlambatan lebih dari 3 jam, secara tegas Edward mengatakan, “Jika penumpang melakukan pembatalan, kami seratus persen akan mengembalikan harga tiket tersebut sesuai ketentuan yang berlaku.”
Ia menambahkan, pihaknya terus meningkatkan pelayanan dan transparansi terkait keterlambatan. Rencananya, Lion Air juga akan menyediakan media campaign, yang memuat informasi perusahaan, termasuk keterlambatan. Dia pun mengharapkan, para penumpang pun bisa memaklumi dan tidak mengalami trauma karena penerbangan ditunda.
“Padahal keadaannya memang begitu (Memang harus ditunda) Beda dengan di luar negeri. Ketika ada delaye, orang di sana mau menunggu. Mereka ingin terbang aman. Kenapa kalau orang kita di luar negeri, tidak berteriak. Tapi jika terlambat di sini (Indonesia) mereka berteriak,” kilahnya.
Edward Sirait, Direktur Umum Lion Air
Selasa, 06 Januari 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Pengikut
Arsip Blog
-
▼
2009
(135)
-
▼
Januari
(36)
- Jangan Abaikan Keselamatan
- Keterbatasan CDMA
- Transparansi Harus Diutamakan
- Sistem Harus Diubah Mendasar
- Ada Alasan, Pemadaman Dilakukan
- Jakarta Butuh Rumah Susun
- Perlu Menghemat Air
- UU yang Melindungi Konsumen
- Pemerintah Harus Peka
- Nasabah Berhak Menuntut
- Utamakan Transparansi dan Pelayanan
- Warga Berhak Minta Ganti Rugi
- Bisa Dikenai UU Gratifikasi
- Telitilah Sebelum Membeli
- Air Bersih Persoalan Serius
- Penundaan Harus Sesuai Regulasi
- Keselamatan Penumpang Terpenting
- Telkom dan Regulasi Baru Menkominfo
- Jangan Kecewakan Masyarakat
- Murah Boleh, Tetapi Harus Berkualitas
- Pengaturan Jam Kantor Bukan Solusi
- Edukasi Hak dan Kewajiban
- Ada Standar Minimum Pemadaman
- Dapat Dijerat UU No. 30
- Meningkatkan Kontrol Internal
- Hukuman Jangan Konyol
- Teliti Sebelum Membeli Rumah
- Masyarakat Jangan Tinggal Diam
- Kaji Ulang Tarif Air
- Mengadulah Kepada Ombudsman!
- 'Delay' Merugikan
- Tanggapan dari PT Telekomunikasi Indonesia Tbk
- Prosedur Pengaduan ke Ombudsman
- Konsumen Dapat Melakukan 'Class Action'
- Masyarakat Harus Berani Memboikot
- PLN Agar Lebih Transparan
-
▼
Januari
(36)
Mengenai Saya
- Suara Kita Merdeka
- Jakarta, DKI, Indonesia
- Blog ini untuk mereka yang BERPIKIR BERSIKAP BERSUARA MERDEKA

Tidak ada komentar:
Posting Komentar