Rabu, 28 Januari 2009

Jangan Abaikan Keselamatan

SAAT ini masih banyak yang dikeluhkan masyarakat pada jasa penerbangan. Umumnya pada hal-hal yang terkait dengan efisiensi, yang dilakukan perusahan penerbangan. Masalah delay misalnya, bisa saja ditengarai sebagai usaha bisnis. 
Sebuah maskapai penerbangan, misalnya, memiliki rute yang berbanding jauh lebih banyak dari jumlah pesawat. Artinya, satu pesawat harus melayani beberapa rute. Jika dalam rute sebelumnya mengalami delay, otomasis rute setelahnya pun akan terganggu. 
Kalau pesawat terlambat terlalu lama, maka jadwal penerbangan dari rute awal sampai yang terakhir, itu akan keterlambatan, bahkan bisa terhambat. Jika keterlambatan itu hanya sebentar, antara 30 menit dan satu jam, umumnya bisa dikejar dengan kecepatan atau speed terbang Namun, dalam penerbangan, ada aturan yang ketat tentang keselamatan. Ditambah lagi aturan perusahaan yang menerapkan efisiansi. Di antaranya dengan mengatur kecepatan pesawat.
Aturan seperti itulah yang harus diperhatikan. Mereka yang terjun di usaha jasa penerbangan, biasanya sudah sangat mengerti bahwa usaha atau bisnis penerbangan adalah bisnis yang sangat ketat dengan aturan.
Namun, ada maskapai yang demi efisiensi mengabaikan aturan-aturan yang baku. Di antaranya, mengorbankan maintainance. Padahal, secara tidak sadar dapat membahayakan penumpang. Sebagai contoh, ada beberapa kasus pesawat tergelincir. Itu juga diakibatkan karena menunda-nunda penggantian ban. 
Ban memang salah satu spare part yang mahal, tapi sekaligus harus sering diganti. Namun, ini yang sering diremehkan dan pada akhirnya menyebabkan hal-hal yang tidak diinginkan. 
Kita juga tidak bisa menutup mata, ketika dilakukan pengecekan ke gudang pesawat, ditemukan kualitas spare part yang dipakai tidak sesuai dengan standar. Dalam kasus ini perusahaan penerbangan berusaha melakukan efisiensi tetapi mengabaikan faktor keselamatan. Padahal, faktor keselamatan jangan diabaikan.
Kalau masalah kekurangramahan awak kabin, itu mungin kita harus dapat menelaah lebih lanjut lagi. Ini terkait masalah pribadi seseorang yang mungkin tidak bisa kita salahkan juga. Misalnya seorang pramugari yang harus berdinas pada penerbangan pertama jam lima pagi, maka ia harus bangun pukul dua dini hari. Karena ia kurang tidur, bisa saja berefek kepada pelayanannya. Tetapi menurut saya ini adalah hal wajar dan sangat manusiawi. Yang tetap harus diperhatikan dan dijaga adalah profesionalitas. 

Ir Alvinsyah, MSE Pengamat Transportasi dan Dosen Teknik UI 

Tidak ada komentar:

Pengikut

Mengenai Saya

Jakarta, DKI, Indonesia
Blog ini untuk mereka yang BERPIKIR BERSIKAP BERSUARA MERDEKA
Powered By Blogger

Tim Merdeka