Kamis, 12 Maret 2009

Jakarta Krisis Air Bersih


BERDASARKAN hasil penelitian Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup (BPLHD) DKI Jakarta pada 2007, air tanah di Jakarta sudah tercemar berbagai bakteri, salah satunya bakteri e-coli, bakteri penyebab diare dan disentri. Tingkat pencemaran air tanah di Jakarta mencapai 65-93%, dengan keadaan ini tingkat krisis air bersih di Jakarta akan semakin cepat terjadi.
 Terjadinya krisis air bersih disebabkan dua hal, pertama Pemrov tidak pernah mendata terhadap penggunaan air bersih, khususnya penggunaan air tanah dari kalangan industri dan pariwisata, sehingga tak diketahui secara pasti berapa banyak air tanah yang digunakan kalangan tersebut.
Persoalan lain muncul karena kurang kuatnya penegakan hukum terhadap penggunaan air tanah secara sporadis. Dengan penggunaan air tanah saat ini, dan cara pembuangan limbah yang masih sembarangan, warga Jakarta hanya tinggal menghitung hari memasuki masa krisis air bersih.
Sementara itu air PDAM yang di terima warga Jakarta yang menjadi pelanggannya pun tak jauh beda. Kualitas air PDAM yang sampai ke tangan pelanggan dinilai belum baik dan belum dapat dikonsumsi secara langsung. 
Mungkin air yang diberikan PDAM dari pusat bagus, namun sistem penyaluran yang masih buruk menjadi faktor penyebab air tercemar berbagai bakteri, salah satunya bakteri e-coli. Dalam proses penyalurannya, kita mengetahui PDAM masih menggunakan cara lama, yakni menggalirkan airnya melalui pipa-pipa yang di tanam di dalam tanah, hal inilah yang menyebabkan air rentan terkontaminasi.
Dengan bukti-bukti tersebut, ada baiknya masyarakat bersama pemerintah bekerja sama untuk menyelamatkan air bersih di Jakarta. Baik itu air tanah maupun air PDAM. Seharusnya ada agenda khusus yang membicarakan masalah ini, agar nantinya masyarakat tidak kekurangan air bersih. 

Selamet Daroyni, Direktur Walhi Jakarta

Tidak ada komentar:

Pengikut

Arsip Blog

Mengenai Saya

Jakarta, DKI, Indonesia
Blog ini untuk mereka yang BERPIKIR BERSIKAP BERSUARA MERDEKA
Powered By Blogger

Tim Merdeka