
DI berbagai kota di Indonesia, kini banyak kita temui vidoetron, yang umumnya terletak di pusat keramaian atau di tengah kota. Di Semarang, videotron terletak di Jalan Pahlawan, di perlintasan jalan depan gedung DPRD Jateng. Di Kudus, videotron terletak di Simpang Tujuh. Namun, apakah manfaat videotron bagi masyarakat? Apakah biar suatu kota dipandang lebih modern dan tidak ketinggalan zaman dan apa fungsi videotron?
Suatu ketika, penulis mengamati videotron di simpang tujuh Kudus. Sekitar satu jam melihat videotron di antara kerumunan masyarakat di malam minggu, yang ditampikan videotron hanya iklan rokok dari salah satu perusahaan rokok terbesar di Indonesia. Sehingga menurut saya, yang diuntungkan dengan adanya videotron hanyalah pengusaha, bukan masyarakat.
Pasalnya, keberadaannya tidak mempunyai peranan signifikan dalam menyosialisasikan kebijakan-kebijakan pemerintah terhadap masyarakat. Visi edukatif dari videotron sendiri seakan tidak ada.
Dari sisi hiburan, videotron juga kurang memberikan peranan. Kalau dulu ada layar tancap untuk sosialisasi Keluarga Berencana (KB), Posyandu, pentingnya pendidikan (sekolah), pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dan pesan sosial lain, seharusnya videotron bisa menjadi alternatif untuk menggantikan fungsi layar tancap yang saat ini tidak lagi populer di masyarakat.
Coba kalau videotron itu dikemas secara apik secara bersama-sama yaitu pengusaha yang investasi dan pemerintah yang ketempatan, misalnya dengan mengemas seperti acara TV. Pada malam minggu, misalnya ada pemutara film. Terus di hari lain, ada sesi dialog dengan kepala daerah setempat, ada rubrik untuk anak, rubrik lowongan pekerjaan, tentu videotron menjadi sesuatu yang sangat berharga, dan masyarakat juga mendapatkan manfaat dari sana.
Oke ada iklan dari perusahaan yang mendanai. Tetapi kalau hanya iklan yang muncul dan tidak ada sesuatu yang lain yang di tawarkan kepada masyarakat, maka keberadaan videotron pun menjadi tanpa guna
Rosidi
rosidi_kalem2000@yahoo.com
Sekjen Institute fo Social and Economic Studies (ISES) Indonesia, founder Lembaga Kajian Agama dan Sosial (LeKAS) Semarang

Tidak ada komentar:
Posting Komentar